Sabtu, 14 Januari 2017

Debat Kurang Ngopi

Pemilukada
Debat Cagub dan Cawagub DKI Jakarat
Ternyata banyak yang menunggu saya mengulas tentang debat Cagub semalam. Kebetulan saya ga nonton. Dan sesudah nonton youtube, saya malah berfikir, "Sial, ngapain gua nonton ya?".

Tidak ada sesuatu yang baru disana. Sudah kita bahas banyak dalam tulisan. Dan memang lebih lucu membahas program-program yang diluncurkan sebelum debat.

Ada yang ingin menghilangkan mobil seharga 3 miliar dari jalan, ada yang berkata bahwa semua permbangunan Jakarta itu adalah kerja Foke dan ada yang kerjaannya bagi-bagi duit melulu seakan-akan tidak ada lagi program selain duit duit dan duit.

Saya ga tahan aja ngeliat Ahok harus membantai kedua pasangan lawannya dengan argumen-argumen cerdas karena memang hanya ia dan Jarot yang menguasai akar masalahnya. Mereka berdua sama-sama pernah di birokrat, sehingga tahu dari A sampai Z bagaimana menata wilayah.

Ahok dan Jarot seperti mengajari kedua pasangan lain, bagaimana seharusnya birokrat itu bekerja. Birokrat itu bukan sekedar pengumbar janji dengan ide-ide yang sama sekali tidak sesuai fungsi. Birokrat itu pekerjaan teknis bukan sekedar politis.

Agus masih agak terbantu dengan adanya Sylvi, meski Sylvi juga ternyata jawaban-jawabannya ambyar karena -mungkin- dulu ia saat jadi birokrat lebih banyak bermain di sisi politis daripada menguasai teknis.

Sedangkan Anies dan Sandi jauh lebih parah, karena mereka seperti tinggal di menara gading, ketinggian untuk di gapai. Istilah kasarnya, mereka terlalu priyayi.
Jadi, kalau warga Jakarta masih pada waras, seharusnya sudah tahu siapa yang layak membenahi kota mereka.

Kan anda tidak mencari pimpinan yang kalau ada masalah terus moshing -menjatuhkan diri ke kerumunan- mendadak? Sikap itu saja sudah menunjukkan, kalau nanti ada masalah ya tinggal mencari simpati aja, beres perkara.

Lagian Agus terlihat banget dikuasai oleh keluarga. Sikap proteksi berlebihan bu Ani menunjukkan Agus belum mampu mandiri lepas dari tekanan orangtua. Ketika Agus memimpin Jakarta, sesungguhnya bu Ani lah Gubernurnya. Dan mulailah terbayang masa 10 tahun ketika beliau menjadi "Presiden" Indonesia..

Ditambah sikap istri yang tidak dewasa yang tidak kuat menghadapi bully-an di media sosial. Duh, mba Anissa bagaimana seandainya anda menjadi istri seorang Jokowi dan Ahok yang kerap dihujani fitnah?

Kelebihan Agus ketika ia nanti memimpin Jakarta pasti tenang. Ya tenang, karena semua dapat bagian mulai dari ormas Islam sampai anggota dewan. Biaya supaya tenang itu ia bebankan lagi ke warganya.

Sedangkan Anies adalah seorang motivator. Kalau warga Jakarta susah, motivasi aja biar mereka kenyang dengan kata-kata harapan, "Yang kuat, ya sayang.. ".
Saya yakin, yang menonton acara itu sesungguhnya juga sedang mencari acara hiburan. Daripada nonton sinetron yang ga habis-habis serinya, mending nonton drama bertemakan pilkada.

Acaranya kurang ganas, ga ada yang emosional, "bocorrr.. bocorrr.." seperti pilpres waktu itu. Debat kemarin kayak perlombaan deklamasi. Puitis tanpa isi. Tidak ada separuh menonton, saya matikan Youtube dan mulai minum kopi.

Kringgg.. seorang teman menelpon.

"Den, Alexis itu apa?". Lalu saya menerangkan dengan detail sampai ke sudut2 yang tidak banyak terjamah.