Jumat, 06 Januari 2017

Generasi Peyot

BBM
Harga BBM Naik
Sebelum era Jokowi, berita naiknya BBM adalah berita paling heboh se-nusantara kecuali Papua. Antrian panjang dimana-mana bahkan di beberapa tempat di luar Jawa tidak kebagian stok. Kenaikan harga BBM dimanfaatkan betul oleh mafia pangan untuk menaikkan harga dengan alasan beban biaya yang juga naik.

Bahkan pada waktu itu, kenaikan harga BBM dijadikan alat bargaining politik karena isunya sangat seksi. Ancaman bertebaran melalui media massa, "Kalau BBM naik, negara rusuh..".

Akhirnya -demi pencitraan- BBM tidak jadi dinaikkan, yang hasilnya malah membebani keuangan negara karena terpaksa mensubsidi sebab harga minyak dunia tidak bisa ditahan. Hasil dari subsidi itu, ya nambah hutang luar negeri lagi.

Sesudah Jokowi mencabut subsidi dan membiarkan harga BBM mengikuti harga minyak dunia, maka kita akhirnya mendengat satu kata yang sudah lama sekali tidak kita dengar, "harga BBM turun..".

Dan sejak itu, habislah sudah budaya antri bertahun-tahun hanya karena beda 100-200 rupiah per liter. Tindakan cerdas Jokowi ini memutus mata rantai sandera terbesar dalam politik Indonesia. Orang lama-lama terbiasa dengan naik dan turunnya harga BBM, dan isu itu sudah tidak seksi lagi. Udah peyot...

Sekarang mana yang antri? Mana?
Jadi kalau kita masih mendengar ada orang yang masih teriak-teriak, "BBM naik.. pemerintah tidak perduli rakyat miskin.. "dengan segala paranoid yang mengikutinya, percayalah, mereka adalah generasi peyot.. Generasi yang bermental miskin meski dikatain miskin ogah..

Jadi biarkan generasi peyot tereak-tereak, mereka hanya bisa ngunyah susur sambil meludah-ludah. Sedangkan kita adalah generasi peminum kopi, yang sudah cerdas menyikapi perkembangan zaman dan lebih concern pada hal yang besar.. Serufut, yot....