Jumat, 24 Maret 2017

BLUE BIRD YANG DIMAKAN GOJEK

Gojek
Taxi Online
Beberapa hari lalu ke bandara, seperti biasa pesan Go-car. Ada yang aneh, saya kok dapat taxi Blue Bird? Tapi karena dapatnya itu, ya saya naik saja.

Di taxi -bukan Fake Taxi ya- saya jadi teringat pertarungan antara supir taxi Blue Bird dengan ojek online. Di Jakarta ramai demo supir taxi waktu itu, sampai terjadi pemukulan. Bahkan Menteri Jonan yang kala itu jadi Menhub sempat melarang adanya angkutan umum online. Dan kemudian larangan itu dicabut Presiden Jokowi.

Dan sekarang Go-jek bisa kerjasama dengan Blue Bird ? Luar biasa...

Go-jek yang awalnya keliatan ecek-ecek itu, baru saja disuntik dana sebesar 7 triliun rupiah. Ditambah dengan investasi terdahulu, nilai perusahaan mereka diperkirakan total sebesar 17 triliun rupiah. Dan gilanya lagi, nilai segitu tanpa aset kendaraan, karena semua sifatnya kerjasama.

Bandingkan dengan Blue Bird perusahaan publik dengan nilai pasar hanya sebesar 9,8 triliun. Itu sudah termasuk nilai aset kendaraannya sebesar 7 triliun..

Transportasi online sekelas Go-jek memang gila. Seandainya mereka mau makan Blue Bird sekarang juga, mereka pasti bisa. Itulah yang membuat perusahaan taxi sekelas Blue Bird gentar. Mau tidak mau lebih baik kerjasama daripada tergilas zaman.

Lalu saya membaca pertarungan di kota-kota kecil seperti Tangerang, Solo dan Bogor antara supir angkot dengan Go-jek. Saya malah kasihan dengan supir2 angkot itu, seberapa lama mereka bisa bertahan?

Tidak akan lama. Zamannya sudah beda, mereka sudah pasti akan tergilas model transportasi baru yang lebih murah dan nyaman. Sekarang saja orang lebih suka kemana-mana pake Go-jek. Bahkan mau makan pun pesan lewat Go-jek. Budaya baru sedang berkembang di Indonesia..

Kenapa sampai perusahaan investasi dunia mau invest begitu besar hanya untuk sebuah ojek?

Kita hanya melihat dari sisi ojeknya, tapi mereka melihat dari sisi yang berbeda, sisi global. Sama seperti Google dan Facebook, Go-jek sebenarnya ingin membangun dunia dalam sebuah platform dimana apapun aktifitas kita nanti ya hanya berputar-putar di aplikasi Gojek.

Mau makan, buka aplikasi Go-jek. Mau pijat, cukup pencet Go-jek tukang pijatnya datang sendiri. Mungkin nanti mau kentut, pencet Go-jek ada yang datang untuk mengusir baunya yang menusuk habis makan ubi bakar cilembu.

Dan Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 300 juta jiwa adalah pasar besar yang belum tergarap maksimal. Go-jek sudah mengaku bahwa aplikasinya sudah terunduh 20 juta kali dan terus bergerak naik selaras dengan ekspansinya ke kota-kota lain.

Saya membayangkan ketika dunia kita semua sudah online, sampai baru sadar saya sudah sampai di bandara.

"Sudah sampai, pak.." kata supir Blue bird. "Ongkosnya sekian rupiah."
"Loh, kan sudah saya bayar pake Go-pay ?"
"Go-pay itu apa ya, pak ?"

Omaigot.. pak supir juga harus belajar teknologi lagi kalau tidak nanti tersingkir dan harus tinggal di rumah karena dianggap tidak berfungsi..

Jadilah saya menjelaskan apa itu Go-pay tanpa seruput kopi..