Jumat, 10 Maret 2017

UMAT ISLAM YANG SALAH KAPRAH

212
Aksi Bela Islam
Subuh saya terbangun, terdengar bunyi azan bergaung. Selesai shalat saya terduduk, mendengarkan ceramah dari toa yang mengamuk. "Saudara, mari kita bantu pemerintah kita melawan Freeport supaya mereka hengkang dari Indonesia!". Terdengar ceramah yang nasionalis disambut gemuruh suara yang hadir, "Ayo berbaris !".

Dan ceramah yang sama saya dengar pada waktu shalat Jumat, kembali berapi-api, "Korupsi e-Ktp itu membunuh rakyat, merugikan negara. Kita sudah seharusnya menjadi negara maju, jika mereka di kursi dewan tidak sangat rakus. Ayo kita berbaris bersama mendesak pemerintah untuk menghukum mati mereka!!". Teriakan takbir bersaut-sautanan dari para jamaah yang hadir. Aku pun ikut mengepalkan tangan dan mengacungkannya ke udara.

Beredar pamflet tentang fatwa MUI di sudut-sudut kota, "Umat Islam wajib hukumnya membela negara dengan berdiri bersama pemerintah untuk mengusir Freeport dari Indonesia". Di dinding kota bertebaran fatwa MUI terbaru, "Koruptor wajib hukumnya di hukum mati".

Lalu terbentuklah Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI -GNPF MUI- meneriakkan aksi massa bersama umat Islam pada tanggal 2 Desember, disebut 212. Jutaan umat Islam -sekitar 7 juta- berkumpul di Jakarta dan melakukan shalat Jumat bersama.

Dari udara drone mengambil gambar kumpulan manusia yang menggetarkan PT Freeport dan pemerintah Amerika, dan membuat dengkul para koruptor lunglai mengingat suramnya nasib mereka ke depan.

Aa Gym nge-tweet, "Subhanallah, umat Islam berkumpul untuk melakukan hal yang benar. Semoga diridhoi Allah apa yang kita lakukan". Dan ia tampak menyiapkan barisan diatas punggung kuda, mirip pangeran Diponegoro kw 3.

Ustad Arifin Ilham tersebar foto-fotonya sedang memegang pedang seperti pejuang di negeri kurma. "Ini saatnya jihad !" Begitu captionnya. Muncul kemudian video Yusuf Mansur di Instagram dengan wajah seperti menangis, "Jangan ditiru korupsi e-KTP itu, ya nak.. jangan ditiru.".

Di masjid-masjid dipasanglah spanduk besar-besar, "Para koruptor yang meninggal di wilayah kami, jenazahnya tidak akan kami shalatkan.."

Berhasil mendesak pemerintah untuk melawan Freeport dan menerapkan hukuman mati bagi para koruptor, digaungkanlah shalat subuh berjamaah bersama mendoakan negara dalam keadaan baik-baik saja, karena perlawanan pemerintah terhadap Freeport dan terbongkarnya mega korupsi e-KTP bisa mengguncang negara.

Dan aku terbangun lagi saat subuh, ingin shalat bersama sebagai bagian dari perjuangan. Sebelum azan, kudengar teriakan di toa, "Ayo kita turunkan Ahok si penista agama.."

Seorang Ahok? 7 juta manusia hanya untuk melawan seorang Ahok saja? Really?? Mending shalat dirumah saja dan kutidur lagi dengan mimpi indah. Berharap umat Islam di negara ini seperti organisasi Hizbullah. Mereka hanya terlihat saat ada sesuatu yang mengancam negara. Grok... Grok.. Zzzz. Zzzz.. Prettt..