Minggu, 23 April 2017

KETIKA IBLIS BERAGAMA

Agama
Iblis
Ada pertanyaan menarik di inbox dari seorang teman yang beragama Kristen. "Kenapa banyak orang yang senang meneriakkan AllahuAkbar -Tuhan Maha Besar- tetapi dengan perilaku yang jauh dari kebesaran Tuhan?".

Agak susah menjelaskannya karena banyak faktor. Tetapi saya teringat hadis dari Nabi Muhammad Saw, "Tidak akan masuk surga seseorang yang mempunyai kesombongan dalam hatinya walau sebesar biji zarah pun.."

Sombong itu adalah benih dari segala macam kejahatan di dunia. Sombong adalah pakaian iblis yang membuatnya dikutuk karena merasa lebih sempurna dari Nabi Adam as.

Iblis merasa bahwa dalam konsep tauhid, ialah yang paling dekat, paling taat, paling kuat beribadah dibandingkan Adam. Lalu kenapa ia harus tunduk kepadanya?

Jadi, iblis juga punya hak untuk meneriakkan nama Tuhan Maha Besar, sekencang-kencangnya. Karena ia memang merasa lebih dekat dengan Tuhan. Dan iblis juga merasa berhak menghakimi karena tidak ada yang lebih dekat kepada Tuhan selain darinya.

Saya lalu menjawab sambil tidak lupa menyeruput secangkir kopi yang sudah mendingin. "Seperti halnya pelajaran, keimanan itu juga ada fasenya. Ada bab awal, bab menengah dan bab yang paling tinggi.

Tingginya keimanan seseorang, berbanding lurus dengan ilmu agama yang dimilikinya. Pada level keilmuan yang tinggi, seseorang akan merasa bahwa sebenarnya ia tidaklah eksis, yang eksis itu adalah Tuhan dalam dirinya. Semakin ia merasa tidak ada, ia akan semakin merendah dan keakuannya akan semakin terkubur dalam bumi.

Beda dengan mereka yang baru belajar agama...

Banyak tipikal manusia yang baru sedikit belajar, sudah merasa paling suci di dunia. Ketidak-sempurnaan kesadarannya diakibatkan ia mengedepankan sombongnya. Dan semakin ia ingin tampak beriman di mata orang lain, teriakan Tuhan Maha Besarnya semakin kencang...

Jadi, bahayanya beragama dengan kesadaran separuh, seperti gelas yang berisi air tidak penuh. Labil dan mudah jatuh. Mereka merasa cukup ilmu agamanya dengan banyaknya ritual yang sebenarnya menjadi tidak ada artinya. Karena agama itu bersifat spiritual, penuh makna di dalam ajarannya..

Tingkatan ritual dan spiritual itu seperti OB dan Manager dalam perusahaan. Karena itu Tuhan selalu bernada perintah dalam Alquran, supaya yang OB paham. Kalau yang level Manager mah menjalankan ritual bukan karena perintah atau suruhan, tetapi sudah menjadi bagian dari kebutuhan dasar..

Dari sini kita bisa melihat bahwa beragama sendiri bukanlah perkara mudah. Seperti iblis, ia secara ritual boleh diacungi jempol. Tetapi pada level spiritual ia nothing. Makanya ia menjadi sombong dengan ritualnya yang sebenarnya tidak ada apa-apanya..

Iblis itu ibadahnya di level OB sepanjang adanya dirinya..." Aku menutup jawabanku.
Diam sejenak, kemudian temanku mengetik pertanyaan baru, "Jadi yang suka tereak-tereak Tuhan Maha Besar di jalan-jalan itu levelnya OB?".


Aku ke warung dulu, kebetulan rokokku habis. Bahaya kalau tidak ada teman kopi ini...