Senin, 03 April 2017

ZAKIR NAIK, MAMAH DEDEH & INDUSTRI AGAMA

Politik
Zakir Naik
Saya bulak balik ditantang untuk datang ke acara Zakir Naik, supaya dapat pencerahan katanya. Saya malah bingung, apa keuntungannya buat saya ya? Sama sekali tidak ada. Zakir Naik hanya satu dari sekian ribu orang yang mempelajari kitab suci dengan tafsiran terhadap ayat yang berbeda.

Kalau dari segi keilmuan, okelah, Zakir Naik emang top. Dia hapal begitu banyak kitab suci lintas agama yang bahkan belum tentu mampu dihapal oleh para pemeluknya. Tapi dari segi pemahaman terhadap isi kitab, nanti dulu.

Penafsiran Zakir Naik terhadap kalimat-kalimat dalam kitab suci yang harus dipelajari kapan, dimana, kepada siapa dan bagaimana ayat itu disampaikan, saya yakin tidak ada apa-apanya dibandingkan Kyai-kyai NU.

Zakir Naik hanya melakukan perbandingan antar ayat di kitab suci A dengan kitab suci B. Dan langsung memberikan kesimpulan bahwa artinya itu begini. Padahal bisa jadi pemahamannya berbeda, hanya karena redaksionalnya yang mirip-mirip langsung ditabrakkan kedua-duanya dengan bahasa "Itu perintah Allah".

Namanya kitab suci ya jelas itu perintah Tuhan. Masalahnya, benarkah maksud Tuhan sesuai maksud Zakir Naik?

Gak usah jauh-jauh ke Zakir Naik. Contoh saja Mamah Dedeh.

Saya juga heran betapa beraninya seorang Mamah Dedeh membuat sebuah penafsiran bahkan fatwa atau perintah, hanya berdasarkan pemahamannya yang rendah terhadap ayat. Siapa Mamah Dedeh? Pendidikan apa yang sudah dilaluinya hingga berani mengatas-namakan perintah Allah berdasarkan tafsirannya?

Mungkin ketika Mamah Dedeh tiba-tiba "berfatwa", "Ini haram !!" Malaikat langsung mencibir, "Elu sapeee?".

Menafsirkan apa maksud Tuhan dalam sebuah kitab suci bukan perkara mudah. Di kalangan ulama top saja banyak perbedaan pendapat.

Di Iran ada jenjang untuk bisa menafsirkan kalam Tuhan. 10-15 tahun, sebagai talabeh atau pelajar ilmu agama dengan mempelajari seluruh kitab suci yang ada. Kalau sudah lulus dari sana, tambah lagi sekolah 5-10 tahun untuk menjadi hujjatul Islam. Hujjatul Islam bisa memberikan penafsiran, tapi belum boleh berfatwa. Mereka harus sekolah 5-10 tahun lagi dan jika lulus menjadi Ayatullah - atau para fakih yang bisa mengeluarkan fatwa.

Jadi bayangkan, untuk mengeluarkan sebuah fatwa saja, perjalanan mereka panjang sekali. Bisa usia 70-80 tahun baru disana disebut ulama. Begitu juga di Mesir, kurang lebih sama.

Nah, bandingkan dengan Zakir Naik -apalagi Mamah Dedeh- yang mendadak jadi rujukan banyak orang. Ulama itu tanggung-jawabnya sangat berat karena dia rujukan umat, sebab fatwa ibarat pedang runcing nan tajam yang bisa menggorok leher mereka sendiri.

Tapi pasar memang berbeda. Fatwa menjadi industri baru yang harus diproduksi sebagai sebuah barang siap makan. Komersialisasi ulama menjadikan banyak penceramah instan yang disukai orang yang beragama dengan instan juga. Ada penceramah rasa kari ayam, ada yang ayam bawang, malah ada yang rasa rendang.

Dan si pencari agama juga memilih sesuai selera. Ada yang suka karena si penceramah tampan, ada yang suka model yang memaki-maki dan ada yang suka karena "pokoknya dia terkenal, sering masuk tipi..".

Mereka bahkan tidak mau sulit-sulit melakukan identifikasi, siapa yang memasukkan ilmu ke otak mereka? Jangan-jangan tukang tambal ban yang hapal satu dua ayat doang, trus ganti profesi karena jadi ustad lebih bergengsi..

Begitulah kenapa nama Zakir Naik melejit, karena ia menggunakan youtube sebagai promosinya. Ditambah judul yang bombastis, "Zakir Naik membuat seribu orang Hindu masuk Islam..". Makin heroiklah dia di kalangan bumi datar yang memimpikan seorang superhero dengan cawat di dalam.

Jadi, untuk apa saya menjadikan Zakir Naik sebagai rujukan kebenaran dan kesalahan?.

Apalagi ditambah iklan, "Pilih yang cawatnya di dalam. H a l a l... Mamah tau sendiri". Ah, enaknya malam ini bikin kopi lagi. Seruput ahhh.