Senin, 22 Mei 2017

GUS MUS

Denny Siregar
22 Mei, Kediaman Gus Mus Rembang
Perjalanan dari Jogja ke Rembang memakan waktu sekitar 6 jam. Saya ganti bus 2 kali, pasti cari yang patas AC karena cukup melelahkan. Akhirnya bertemu temanku yang berjanji mengantarkanku ke rumah seorang ulama besar yang tinggal di sudut kota jauh dari keramaian.

Rumahnya sederhana saja. Beliau kebetulan sedang tidak enak badan, tapi mau menerima kami yang datang dari jauh. Tidak ada sofa di ruang tamunya, yang ada karpet-karpet tebal menghampar di seluruh ruangan.

Tidak lama kemudian sosok besar itu muncul. Beliau begitu bersahaja sehingga diriku tidak tahan untuk tidak mencium tangannya. Saya sangat menghormatinya. Rasanya diri mengecil ketika duduk bersila di depannya.

Kami bercerita banyak hal - kadang sampai tertawa terbahak. Tidak ada. batas disana, yang ada hanyalah adab. Kopi, teh manis panas bahkan makan malam pun beliau sediakan. Seperti ada di rumah sendiri rasanya...

"MUI itu mahluk apa, tidak jelas kelaminnya.." ini perkataan beliau yang sangat terkenal ketika menyampaikan kritik keras pada lembaga yang mengatas-namakan ulama, tapi tidak menjunjung ahlak keulamaan.

"Saya harus menyampaikan apa yang harus disampaikan ketika sesuatu itu salah. Kalau tidak, saya yang berdosa.." Katanya.

Saya tidak banyak berbicara disana, karena berbicara di depan manusia penuh ilmu sungguh kerugian yang besar. Lebih menguntungkan menyerap setiap kata-katanya.

KH Ahmad Mustofa Bisri atau lebih akrab dipanggil Gus Mus adalah salah satu ulama yang mempunyai massa akar rumput yang sangat besar. Beliau tinggal menunjuk jarinya saja, maka ratusan ribu umatnya akan bergerak sesuai fatwanya.

Tapi itu tidak pernah dilakukannya - walaupun beliau sering dicaci di media sosial. Beliau tahu, bahwa senjata ada ditangannya sehingga harus bijak dalam menggunakannya.

Salah satu ciri "ulama yang benar" adalah mereka yang sudah selesai dengan dirinya. Dunia sudah tidak menarik lagi baginya. Mereka tidak suka menonjolkan diri, karena sudah tidak memerlukan pengakuan dari sesama manusia.

Jikapun akhirnya Gus Mus sering muncul di media sosial, itu karena tanggung jawabnya kepada umat, menyampaikan ilmu dengan benar di balik semua kesalahan yang dipompakan oleh mereka yang mengaku-ngaku ulama tetapi malah merusak tatanan.

Waktupun berlalu tidak terasa. Sudah malam saatnya pulang. Beliau sudah lumayan sepuh, pasti perlu istirahat yang cukup. Saya yang masih haus akan ilmunya, harus mengerti bahwa beliau ingin punya waktu untuk sendiri.

Saya mencium tangannya lagi, kali ini penuh rasa cinta. Saya ingin kembali lagi satu saat hanya sekedar untuk menemukan kedamaian hati ditengah panasnya isu politik yang terus menerus bergelora.

Kuseruput kopi dari cangkir kecil yang tersedia. Catatan hidupku bertambah. Besok kuangkat ranselku kembali, berpetualang untuk bertemu orang-orang besar di negeri ini.

Bukan untuk sebuah pengakuan, tapi untuk belajar bagaimana seharusnya manusia berfungsi..