Senin, 01 Mei 2017

TEROR VS TEROR

Banser, ansor
Banser dan Ansor NU
Konsep teror banyak dikaitkan dengan aksi kekerasan langsung seperti bom bunuh diri, penusukan dan lain sebagainya yang kita kenal.

Padahal tujuan utama dari teror adalah menyebarkan ketakutan. Cara menyebarkan ketakutan banyak, mulai dari intimidasi sampai pengancaman.

Aksi-aksi yang berlangsung massif seperti demo berangka kemaren, sebenarnya adalah bagian dari teror. Mereka mengintimidasi mulai dari masyarakat, aparat, pemerintah sampai lembaga peradilan dengan banyak ancaman supaya tujuan mereka tercapai.

Sampai saat ini bisa dibilang teror mereka berhasil. Pelaku teror dengan menggunakan agama berhasil memaksakan kehendak mereka dengan menggerakkan massa, melakukan tekanan atas nama umat.

Dampak dari keberhasilan teror mereka adalah ketakutan. Ketakutan ini mewabah di banyak lapisan masyarakat mulai dari rakyat kecil sampai pengusaha. Para pelaku teror ini berhasil membangun paradigma bahwa situasi akan kacau dan ekonomi akan terganggu jika tuntutan mereka tidak terpenuhi.

Timbul rasa tidak aman untuk melakukan investasi di dalam negeri. Yang berakibat melemahnya arus modal ke dalam negeri sampai modal yang akhirnya lari keluar negeri atau capital flight.

Di tatanan masyarakat biasa, para pelaku teror dengan memanfaatkan aksi massa ini berhasil mempengaruhi pemikiran banyak orang bahwa "jika mereka berkuasa semua akan aman". Mirip gerombolan preman yang mengancam pemilik usaha supaya membayar mereka untuk melakukan pengamanan, jika tidak tempat usaha mereka akan dirusak.

Keberhasilan aksi teror akan diikuti aksi lainnya. Demo buruh yang baru saja terjadi dengan membakar karangan bunga adalah kelanjutan dari keberhasilan aksi teror demo berangka sebelumnya. Dengan teror ini mereka akan memaksa dengan keras tuntutan mereka kepada pemerintah, jika tidak "tau sendiri akibatnya.."

Mereka ingin membuat masyarakat runtuh kepercayaannya terhadap wibawa pemerintah.

Situasi sekarang ini sudah demikian parahnya ketika aksi teror didiamkan begitu saja dan diharapkan hilang dengan sendirinya. Mereka seperti api dalam sekam yang akan membara dan membakar seisi rumah jika tidak dipadamkan secepatnya.

Bagaimana cara memadamkannya?

Terkadang cara memadamkan api bukan dengan air karena api akan semakin membesar. Butuh ledakan keras untuk memadamkan api yang sudah terlanjur besar.

Jika pemerintah yang langsung menghadapi mereka, tentu serangan balik akan kembali ke pemerintah dengan bahasa HAM, otoriter dan zolim. Pemerintah akan sangat kesulitan jika sudah masuk wilayah ini, karena akan menciptakan pahlawan-pahlawan baru di sisi pelaku teror yang membuat gerakan mereka bukannya padam, tapi malah membesar.

Yang paling memungkinkan sekarang ini adalah membangun api baru, tetapi api yang bisa dikendalikan. Seperti kata pepatah, "fight fire with fire". Lawan propaganda dengan proganda. Ikuti cara mereka, tiru pola mereka untuk menteror mereka.

Seperti kata Habib Rizieq waktu ceramah di Madinah kemaren, "Ada dua kelompok Islam di Indonesia..Yaitu Islam fundamental dan Islam tradisional. Jangan adu domba mereka.."
Seandainya saya disana ikut ceramahnya beliau, saya akan angkat tangan saya untuk mendapatka kesempatan berbicara.

"Bib, Islam tradisional lah yang selama ini menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia dalam kerangka agama yang sejuk dan berwibawa. Sedangkan Islam fundamental yang dibawa dari Arab Saudi, datang belakangan membawa api kesini.

Tidak mungkin disatukan dua konsep ini dalam satu wadah. Yang fundamental adalah minyak sedangkan yang tradisional adalah air. Mereka selalu berpisah dalam ideologi..."

Saya akan angkat secangkir kopi di depan para jamaahnya dan berkata, "Bagaimana seandainya Islam tradisional yang selama ini diam tak bersuara, bangkit dan menyapu minyak yang berpotensi membakar negara?

Jika kalian melakukan teror di Indonesia, di satu titik sang singa yang akan menteror kalian semua.."
Seruput.