Sabtu, 03 Juni 2017

AHLI IBADAH YANG SOMBONG

Iblis
Iblis Sombong
"Saya lebih baik dari dia.." kata Iblis kepada Tuhan sambil menunjuk Nabi Adam as. Iblis jelas tersinggung karena ia beribadah begitu lama kepada Tuhan dengan nilai ritual yang tiada duanya di kalangan jin manapun. 60 ribu tahun bukan waktu yang sedikit. Ibaratnya tuh jidat udah gosong gumosong dipake sujud.

Dan sekarang dengan seenaknya Tuhan menciptakan seorang manusia dihadapannya dan menyuruh dia - si ahli ibadah ini - untuk tunduk kepadanya ?? "Nehi !" Kata iblis membuang muka dengan aksen india dan siap-siap mencari pohon untuk menari di baliknya.

Iblis adalah pelaku ritual yang maha dahsyat. Tidak ada satupun kalangan jin yang mampu menandingi ritualnya. Ia bahkan dianggap sebagai "malaikat" karena ritualnya itu.

Tapi apakah ritual ibadahnya itu menyelamatkan dirinya ? Ternyata tidak.

Tuhan Maha Tahu bahwa dibalik kuatnya ibadah iblis, ada rasa kekaguman terhadap dirinya sendiri. Ada perasaan meninggikan diri dan merendahkan ibadah jin lain. Ada rasa bahwa ia lebih mulya daripada bangsa jin yang lain.

Perlahan-lahan iblis menanamkan benih kesombongan dalam dirinya. Benih yang tumbuh menjadi pohon dengan ranting dengki dan iri, batang hawa nafsu yang penuh curiga dan kebencian yang maha dashyat. Dan semua itu berasal dari satu benih yang ia pupuk setiap hari, yaitu sombong.

Kitab suci mengabarkan bahwa Iblis kemudian dikutuk karena ketidak-taatannya itu. Ia lalu meminta satu permintaan saja kepada Tuhan, "Bolehkah aku menyesatkan anak cucu manusia yang Kau ciptakan itu, Tuhan ?"

Tuhan itu Maha Adil. Entah karena Iblis pernah beribadah dengan baik, maka dibalaslah ibadah itu dengan meluluskan permintaannya..

"Jadi dengan apa Iblis menggoda anak cucu Adam ?" Tanya temanku penasaran. Kami sedang minum kopi bersama waktu itu. Aku tersenyum, ini bagian yang paling menarik.

"Iblis tidak suka ketika ada anak cucu Adam yang lebih taat darinya kepada Tuhan. Maka ia merusak semua ritual ibadah seseorang dengan menanamkan benih kesombongan, karena tidak boleh ada dari manusia yang bisa mengalahkannya dalam hal keimanan..."

Temanku terdiam. Ia baru sadar bahwa iblis merusak manusia justru ketika manusia itu mulai merasa ia sedang beriman.