Kamis, 01 Juni 2017

PERSEKUSI FPI

FPI
Mario
Saya sendiri baru tahu artinya "persekusi". 

Yaitu perburuan sewenang-wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga untuk disakiti. Itu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Itulah yang dilakukan FPI dan rekan-rekannya sekarang. Mereka memburu beberapa warga yang berbeda pandangan dengan mereka terutama pada masalah Habib Rizieq yang memang sekarang menjadi bulan-bulan sesudah menjadi tersangka chat porno.

Perbuatan arogan ini disosialisasikan kemana-kemana di dalam jaringan mereka. Mereka bahkan sudah menyusun daftar siapa saja yang harus dikunjungi dan diintimidasi.

Saya untungnya tidak masuk dalam daftar itu, karena mereka sadar bahwa saya punya ilmu langit yang tidak main-main. Baru saja mereka meluncurkan pengumuman 720 pengacara untuk mengintimidasi saya, besoknya -jreeeng- HRS jadi tersangka.

Apalagi ada isu bahwa mata saya bisa mengeluarkan api kalau marah dan tubuh membesar menjadi hijau lalu memporak-porandakan mereka. Cuman saya jarang pake ilmu ala Hulk ini, karena sudah kehabisan banyak celana.

INTIMIDASI, itulah yang bisa mereka lakukan sekarang ini. Sesudah berhasilnya mereka dalam "memenjarakan" Ahok dan seorang dokter di Balikpapan, mereka menganggap bahwa itu cara yang terbaik dalam melawan dan menguasai media sosial.

Apalagi dalam kasus dr FieraLovita di Solok, kelompok intoleran pendukung HRS ini seperti didukung oleh pemerintah dan aparat daerah yang dengan bahasa malu-malu kambing mengatakan bahwa "intimidasi itu hoax". Makin jumawa-lah mereka..

Sayangnya, perlakuan mereka mendapat perlawanan dari masyarakat. Viralnya pesan dr Fiera Lovita dan video intimidasi terhadap anak usia 15 tahun, membuat aparat pun jengah. Mereka lalu bergerak mengamankan pelaku intimidasi untuk mendapatkan kembali kepercayaan dan rasa aman dari masyarakat.

Hal ini juga tidak terlepas dari koordinasi antara GP Ansor dan pihak kepolisian. Perilaku main hakim sendiri ini dinilai membuat masyarakat resah. Apalagi ditambah tayangan menampar dan memukul terhadap seorang anak yang masih berusia 15 tahun.

Dari perilaku mereka, kita sadar ada yang berbahaya ketika model peng-intimidasi kelak menguasai negeri ini nanti. Mereka akan menghakimi sendiri apa yang tidak mereka sukai.

Saya jadi teringat kejadian di Mesir ketika Mohammad Morsy dari Ikhwanul Muslimin menjadi Presiden. Serentak para pendukungnya melakukan persekusi dan intimidasi kepada mereka yang berseberangan dengan mereka. Bahkan ada seorang kepala keagamaan yang diseret dan dipukuli sampai mati hanya karena mereka tidak menyukai cara berceramahnya yang memerahkan telinga mereka.

Dari peristiwa ini, kita sudah mulai harus bisa mengidentifikasi siapa yang kita pilih di 2019 nanti. Jangan sampai mereka menguasai negeri ini melalui pemimpin yang terpilih. Bisa mengerikan dampak yang kita dapati.


Dan cara mengidentifikasi yang benar adalah, siapapun calon pemimpin yang mendapat dukungan dari kelompok intoleran, wajib untuk tidak dipilih. Sekian, saya permisi mau minum kopi..