Kamis, 03 Agustus 2017

HARI TANOE SANG PEDAGANG

Politik
Hary Tanoe
Oke, kita serius kali ini.

Hari Tanoe adalah pedagang dan begitulah ia memberlakukan politik, sebagai bagian dari praktik dagang.

Tidak ada ideologi yang kuat darinya kecuali uang. Semua ini investasi baginya dan ada saatnya ia harus balik modal.

Sebagai pedagang -dan harus kita akui bahwa dia sukses di bidangnya- ia adalah tipikal pragmatis dan oportunis. Tidak ada yang rumit baginya jika itu berurusan dengan penjualan.

Begitu juga ketika ia "menjual" dirinya ke pesantren2 dengan bergaya sarungan. Atau meninggalkan tempat nyamannya untuk terjun ke nelayan.

Kenapa ia membangun partai dengan investasi yang bisa mencapai trilyunan? Jelas sebagai jaminan. HT punya koneksi luas di luar negeri, bahkan sanpai ke Donal Trump. Dengan adanya partai yang ia branding dengan jaringan medianya, maka ia sebenarnya membangun trust dengan koneksi luar negerinya bahwa uang mereka aman karena berhubungan dengan seorang pengusaha sekaligus politikus.

Dan jika ia dalam posisi tidak aman, begitu juga investasinya...

Posisi HT tergantung nilai saham perusahannya. Jika ia "bermasalah", secara otomatis saham perusahaannya anjlok.

Pada bulan Februari lalu, saham di MNCN ambruk sehingga masuk dalam jajaran Top Losera index LQ45. Anjloknya saham MNCN diperkirakan karena nama HT tersangkut dalam laporan Antasari Azhar bahwa ia adalah orang yang diutus SBY supaya Alia Pohan, besannya, tidak ditahan.

Pada bulan Juni, sahamnya juga sempat anjlok ketika HT terseret berita PHK karyawannya dan menjadi tersangka akibat sms-nya ke Kejaksaan Agung. Meski menguat lagi, tapi terlihat bahwa pergerakan saham HT identik dengan reputasinya.

Karena itulah sebagai bagian dari menjaga performa nilai sahamnya, maka ia mendukung Jokowi sebagai capres 2019..

Mungkin ini akibat desakan para krediturnya. Perusahaan HT diketahui bulan Juli melakukan re-financing atau pembiayaan kembali. Dan dengan investasi besar2an ini, Bank yang menaruh investasinya tentu membutuhkan jaminan keamanan.

Berdasarkan analisa pasar, maka merapat kepada Jokowi tentulah lebih aman. Apalagi ditambah dengan status tersangkanya yang - mungkin - bisa dijadikan tukar guling dengan iklan pilpres untuk Jokowi nantinya.

Banyak keuntungan yang akan didapatnya setelah mendukung Jokowi nantinya. Selain kepercayaan investor meningkat, status tersangkanya berpotensi ditangguhkan, juga nama Perindo akan membaik di mata para pendukung Jokowi - meski ia harus mengorbankan dukungan dari pendukung Prabowo.

Dan HT dengan tersenyum melihat angka2 perusahaannya di bursa tetap berwarna hijau, sehijau pandangannya terhadap politik di Indonesia. Karena buat HT, politik itu kalau gak berwarna hijau ya warnanya merah. Kalau merah, berarti ia rugi..

Sederhana kan?

Gak perlu ruwet2 dengan segala analisa strategi kemenangan Jokowi dan segala macam. Cukup melihat karakternya, maka kita akan bisa melihat pola langkahnya..

Udah malam, akhirnya gak jadi tidur di sofa dan bisa pindah ke kamar lagi..
Tok tok tok..

"Mah, mamah... Mau ngasih tahu, pak Joko tetangga sebelah sudah mulai merokok lagi.."