Selasa, 15 Agustus 2017

KENAPA SAYA TIDAK BAHAGIA?

Bahagia
Bahagia
"Kenapa saya tidak bahagia?". Tanya seseorang yang mampir di inbox. Pertanyaannya singkat tapi terlihat sangat butuh jawaban segera. Saya justru heran, kenapa dia tidak bahagia? Apa yang membuat dia tidak bahagia?

Saya perhatikan profile pic nya dia tampak sehat. Dia bukan orang yang harus berjalan dengan dua tangan sejak kecil karena terlahir tidak punya kaki. Dia juga tampak bukan orang yang lahir cacat kembar dempet dengan dua kepala dan satu tubuh yang tidak bisa dipisahkan kecuali oleh mati.
Lalu apa yang membuat dia tidak bahagia?

Saya pun menulis...
"Bahagia itu bukan dicari, ia dihadirkan dalam diri. Ia sulit hadir ketika seseorang selalu marah pada situasi. Ia tidak akan hadir ketika seseorang selalu berputus asa dan menyalahkan takdir kenapa ia dilahirkan seperti ini.
Bahagia hanya hadir kepada manusia yang selalu bersyukur atas apapun yang terjadi. Sehebat apapun hantamannya, sekuat apapun tekanan yang dihadapinya, semua itu terjadi bukan tanpa makna. Tetapi melatih orang untuk berfikir bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan seseorang selain dirinya sendiri.

Ketika kamu bertanya kenapa saya tidak bahagia, saya akan bertanya kenapa kamu tidak bahagia. Jangan menjawab dengan beribu alasan, tetapi mulailah instropeksi bahwa setiap manusia dilahirkan pasti karena mempunyai fungsi.

Carilah fungsimu di dunia ini dan bahagia akan tumbuh seiring manusia menghargaimu bukan karena siapa dirimu tetapi apa yang sudah kamu lakukan terhadap orang lain.
“Kebahagiaan itu seperti magnet yang akan menarik kebahagiaan disekitarnya, begitu juga sebaliknya dengan kesedihan".
Kubakar sebatang sigaret malam ini dan mulai berfikir bahwa banyak manusia yang salah bertanya. Ia seharusnya tidak bertanya kenapa dia tidak berbahagia, tetapi bertanya kenapa tidak mampu membuat orang lain bahagia.

"Tuhan itu sesuai prasangka manusia terhadap diri-Nya", sabda Nabi. Ketidak-hadiran Tuhan dalam diri seorang manusia bukan karena Ia tidak ada, tetapi karena manusia yang tidak menghadirkanNya.
Begitu juga dengan bahagia.

Bahagia itu seperti secangkir kopi. Ia pahit bagi dirinya tetapi nikmat bagi orang lain yang mencecapnya.