Sabtu, 26 Agustus 2017

SUATU MALAM DI RIAU

Riau
Ngobrol Kebangsaan
Ternyata penolakan beberapa kelompok ormas terhadap acara di Riau besok, bukan main-main. Mereka melobi kesana kemari supaya acara dibatalkan. Alasannya narasumber akan membuat kisruh suasana tenang di Riau.

Bahkan kepolisian mencabut empat spanduk yang berisi penolakan kedatangan saya yang syiah dan si eko kuntadhi yang liberal. Kalau birgaldo sinaga karena dia sudah kafir duluan, gak jadi ancaman.
Untungnya ada Ansor yang menjamin bahwa acara akan berlangsung tertib dan aman, sehingga acara tetap di perbolehkan.

Lha gimana, ngomong tentang masalah kebangsaan kok gak boleh? Masak ngomong dengan kearab-araban baru diizinkan.

Tapi saya sudah berjanji kepada panitia untuk tidak ngomong tentang Poligami. Karena ada dua kubu garis keras yang rencana akan datang barengan.

Yaitu kaum bapak yang menuntut poligami diperbolehkan karena sudah lelah tidur di sofa terus-terusan, dan kaum emak yang menuntut supaya poligami dihentikan, karena tidak kuat menerima kenyataan diterapkannya keadilan yang proporsional, yaitu istri muda belanja bedaknya lebih mahal karena masih semlohai.

Bayangkan betapa rumitnya situasi di Riau besok pagi. Beberapa kelompok dengan tujuan berbeda akan datang meramaikan suasana. Malah terbetik kabar bahwa beberapa korban umroh First Travel juga akan datang dan menuntut panitia supaya mereka diberangkatkan, kalau tidak, Jokowi lagi yang akan disalahkan..

Iki piye tho? Makin semrawut.
Ah, sudah malam.


Besok siap-siap menghadapi serbuan selfie emak-emak yang tangan kiri memegang handphone dan tangan kanan memegang dompet suami yang isinya kadang bikin tertawa tapi seringnya nangis.