Senin, 25 September 2017

ADA APA, PANGLIMA?

Pangti
Jenderal Gatot Nurmantyo
Sudah lama saya ingin berkomentar tentang langkah-langkah Panglima TNI. Saya tahan, karena tidak ingin salah dalam memberikan prediksi. Meskipun sudah banyak yang mencurigai bahwa apa yang dilakukan Panglima adalah bagian dari gerakan menuju Pilpres 2019.

Saya ingat sekali, Panglima dipilih dan diajukan sendiri oleh Presiden Jokowi. Diluar saya sempat mendengar desas desus bahwa Bu Mega sendiri marah ketika pakde kembali memilih Panglima dari Angkatan Darat karena sudah seharusnya jabatan itu diambil dari angkatan lain.

Tapi saya tetap percaya kepada pilihan Presiden, karena kepercayaan tinggi untuk menjaga pembangunan infrastruktur di Papua dan distribusi pupuk yang kala itu banyak dikuasai mafia. Itulah yang saya ketahui..

Begitu juga ketika Panglima terus menerus bergerak ke kampus-kampus, meski diakui sudah seijin Presiden. Padahal banyak pendapat yang mengatakan bahwa bukan tugasnya Panglima ke kampus, karena dirinya dibutuhkan di kesatuan.

Tapi semakin hari ternyata langkah Panglima sudah mulai offside, menurut saya. Kepercayaan penuh Presiden yang diberikan, malah membuat Panglima melangkah semakin lebar.

"Emang gua pikirin.." begitulah Panglima berkomentar ketika ditanya wartawan dalam setiap langkahnya yang kontroversial. Sebuah jawaban yang bukan membuat adem, tapi malah membuat suasana menjadi gerah.

Menuju hari Kesaktian Pancasila, situasi bukannya semakin teredam, malah Panglima membuat manuver-manuver yang tidak efektif. Nonton bareng film PKI di kesatuan, misalnya. Meskipun itu hak Panglima memberi perintah, tapi itu malah memberi ruang tuduhan-tuduhan sepihak "kamu PKI" kepada banyak orang.

Dan lihat, PKS pun memanfaatkan dengan gembira langkah Panglima, yang membuat isu PKI ini makin menjadi panas karenanya.

Dan ketika Menkopolhukan dan Kapolri, menganulir pernyataan Panglima tentang 5 ribu senjata yang katanya "masuk ke Indonesia", barulah saya mulai bertanya, "ada apa Panglima?"

Abaikan tulisan ini karena saya hanya warga biasa yang tidak layak didengar suaranya, apalagi jabatan saya tidak ada apa-apanya dibandingkan jabatan Panlima TNI.

Tapi inilah keresahan yang harus saya tuangkan, daripada saya simpan dan jadi jerawat di muka. Tontonan adu argumentasi antara pejabat pemerintah dengan liputan media massa yang luas, tentulah bukan hal yang bagus dan malah akan dimanfaatkan oleh mereka yang punya kepentingan tidak baik.
Sudah selayaknya, jabatan-jabatan tertinggi negara membuat situasi menjadi adem dan tenteram, bukannya saling memanaskan. Republik ini sedang menuju pendewasaan, seharusnya dibimbing bukannya malah dipertontonkan hal yang tidak berkenan..

Jangan lagi kata "Emang gua pikirin.." menjadi senjata efektif untuk membungkam banyak pertanyaan di kepala. Seharusnya memang dipikirkan, bagaimana semua menjadi lebih baik, bukannya diabaikan atau malah dipelihara situasi panasnya.

Kami mengharapkan pernyataan yang bijak dari seorang Panglima, bukan pernyataan yang melecehkan.

Saya tetap berpandangan positif, meski sudah mulai goyah dengan apa yang saya yakini sekarang. "Jabatan itu memang manis.." begitu kata seorang teman ketika menganalisa bahwa apa yang dilakukan Panglima adalah bagian dari menarik simpati masyarakat menuju Pilpres 2019.

Saya dulu menampik analisa dia, meski saya mulai percaya sekarang..

Panglima, Maret 2018 kemungkinan adalah bulan terakhir menyandang jabatan. Semoga hari-hari terakhir menujunya bisa diisi dengan pernyataan dan tindakan yang lebih berguna buat kita semua, daripada terus mengeluarkan pernyataan kontroversial yang menuduh sana sini.


Saya orang kecil yang hanya bisa berharap semua berjalan dengan baik sambil sesekali seruput secangkir kopi. Tetapi setidaknya saya jujur dalam menyampaikan pendapat tanpa ada pikiran sedikitpun untuk mendapat jabatan. Seruput.