Kamis, 07 September 2017

IMAM B PRASODJO

Imam Prasodjo
Imam Prasodjo dan Denny Siregar
Tidak saya sangka akhirnya saya sebangku juga dengan salah satu mentorku yaitu Imam Prasodjo. Dalam diskusi tentang menatap Indonesia ke depan yang diadakan alumni tambang dari ITB itu, saya banyak belajar dari beliau. Terutama karena saya selalu memandang masalah dari sisi yang luas, sedangkan pak Imam dari sisi kedalaman.

Khas akademisi, beliau mempresentasikan tentang sekat-sekat yang tumbuh baik sadar maupun tidak di Indonesia yang plural ini. Dan sekat itu bahkan sampai ke perumahan, seperti di Karawaci ada pembangunan perumahan khusus untuk yang beragama Islam.

Ketika beliau memutar kumpulan videonya di daerah konflik di Ambon, Poso dan Halmahera, perasaan saya bercampur antara ngeri sekaligus jijik. Betapa bangsa kita jika dibenturkan ternyata bisa sesadis ISIS rupanya.

Imam Prasodjo bagi saya adalah bagian dari sejarah, karena ia mengumpulkan perjalanan dirinya dalam sebuah tayangan visual. Kisah seram yang bahkan tidak ingin lagi kita kenang.

Syukurlah saya sama beliau punya pandangan yang sama tentang kebangsaan, bahwa negeri ini harus dijaga dengan segala cara kebhinekaannya.

Hanya satu yang berbeda..


Saya dengar pak Imam tidak memperkenankan siapapun yang merokok untuk datang ke rumahnya. Bahkan saat lebaran, salah seorang keluarganya urung datang karena dia perokok berat. Kalau begitu saya tidak akan berkunjung ke rumah pak Imam. Karena selain gak tahu dimana rumahnya, juga karena saya adalah perokok pasif, maksudnya kalo ga dapat hutangan ya pasif gak merokok. Rasanya secangkir kopi menarik untuk diseruput siang ini sebelum melanjutkan perjalanan..