Senin, 18 September 2017

PENULIS BISA JUGA KAYA

Penulis
Ilustrasi Penulis
Lahirnya media sosial secara tidak langsung merubah semua tatanan yang selama ini ada, bahwa penulis harus menerbitkan buku melalui penerbit dan harus memajang bukunya di toko buku.

Memang masih ada sebagian penulis yang memelihara kebanggaan bahwa ketika bukunya di pajang di toko buku besar, itu adalah prestise. Media sosial pelan-pelan merubah kebiasaan itu.

Ketika buku kedua saya ditolak oleh penerbit karena terlalu "politis" katanya, maka mau tidak mau saya harus berjibaku sendiri.

Berbekal keyakinan dari buku pertama yang laku, saya kemudian mencari editor dan disainer untuk buku kedua. Sesudah itu saya mencari percetakan murah. Disinilah saya belajar bagaimana menulis dan menjual buku sendiri.

Proses itu ternyata sangat menyenangkan, karena saya akhirnya paham seluk beluk bagaimana menjual buku. Saya bahkan belajar hitung menghitung dalam mencetak buku.

Dari pembicaraan dengan tukang cetak yang akhirnya jadi seorang teman, saya menemukan rumus, modal mencetak buku adalah seperempat dari buku yang akan dijual.

Sederhananya, saya mencetak buku 5 ribu eksemplar. Kemudian saya menghitung harga jual. Dari harga jual itu terhitung, kalau seribu buku saja laku, maka modal pun kembali. Selebihnya adalah keuntungan.

Tapi darimana modalnya?

Kembali lagi, terimakasih pada media sosial. Dengan memanfaatkan media sosial yang ada saya melakukan pre-launch bahwa buku akan terbit selama seminggu atau dua minggu lagi, dan yang membeli pertama akan mendapat diskon.

Dari hasil pre-launch itulah saya mendapat modal untuk mencetak buku. Modal yang saya keluar sendiri hanyalah uang muka sebesar 20 persen dari harga cetak buku, selebihnya dilunasi oleh para pembeli itu sendiri..

Disini memang unsur kepercayaan antara si penjual dan pembeli buku harus sangat besar. Namanya media sosial, kalau salah perhitungan sedikit, habislah dicaci-maki bahkan dituntut oleh pembeli yang sudah mengeluarkan uang tapi bukunya gak dikirim-kirim.

Disinilah saya mulai bisa bicara kepada teman yang tadinya meyakini bahwa penulis buku harus siap miskin, bahwa penulis bisa juga kaya.

Dengan adanya media sosial, tidak perlu lagi adanya penerbit dan toko buku, sehingga yang biasanya penulis hanya menerima royalti 9 persen, kali ini dibalik bahwa penulis bisa mendapat keuntungan dari hasil bukunya sebesar lebih dari 80 persen.

Dan tidak perlu lagi menunggu sampai setahun baru bisa mencairkan royalti..

Perlahan-lahan peran penerbit dan toko buku tersingkirkan. Media sosial membongkar tatanan yang selama ini menjadi kerajaan monopoli jaringan toko buku, penerbit dan percetakan yang biasanya ada dalam satu grup besar..

Akhirnya saya bisa juga merasakan hasil dari karya saya, baik secara nilai materi maupun nilai spiritual.

Sekarang saya memikirkan bagaimana memfasilitasi bakat-bakat menulis muda yang ada di wilayah pinggiran Indonesia yang jauh dari penerbit sehingga mereka bisa menjadi penulis-penulis baru yang selama ini didominasi orang-orang yang tinggal di kota.

Untuk itulah saya ciptakan Baboo, aplikasi khusus untuk komunitas penulis. Dan revolusi di bidang bukupun terus berjalan..


Sekarang sudah memasuki fase nilai berbagi. Secangkir kopi pun ternyata bisa merubah pandangan lebih luas.. Seruput dulu, ah..