Senin, 18 September 2017

PENULIS YANG MISKIN

Penerbitan
Ilustrasi Penulis
"Menjadi penulis itu siap miskin.."

Begitu kata seorang teman ketika saya bilang kepadanya saya ingin jadi penulis.

"Ah, masak ?" Pikir saya waktu itu. Buktinya Andrea Hirata penulis Laskar Pelangi malah kaya raya. Apalagi JK Rowling penulis Harry Potter sudah menjadi multijutawan. Dan saya menampik pandangan teman saya - yang penulis - bahwa penulis itu susah kayanya.

Ketika penerbit datang hendak menerbitkan tulisan saya, saya pun girang bukan kepalang. "Asek, saatnya tiba untuk menjadi kaya..". Kebayang berapa pendapatan ketika buku laku puluhan ribu eksemplar. Saya pun menandatangani perjanjian dengan penerbit, yang bahkan tidak saya baca lagi isi kontraknya.

Dan -Alhamdulillah- bukupun laku. Mungkin karena saya sudah membangun kelompok pembaca sendiri di media sosial, maka lebih mudah bagi saya untuk menjual buku.

Saya pun menagih kepada penerbit, kebetulan lagi lapar dan hutang di warung kopi menumpuk semakin besar. Kalau tidak bayar, saya disuruh nyuci gelas di warkop.

"Coba abang pelajari lagi kontraknya, disitu dijelaskan bahwa royalti -yang sebesar 9 persen- baru akan dibayarkan 6 bulan kemudian.." Saya tercengang. 6 bulan lagi? Waduh, bagaimana ini hutang di warung kopi?

Barulah saya mulai mempelajari kontrak dengan bahasa yang njlimet dan bikin pucing kepala berbie. Sesudah pelan2 memahami baru saya ngeh bahwa memang royalti baru akan dibayar setiap bulan ke enam dan bulan ke 12. Lemaslah sekujur rambut yang sudah keriting papan..

Disitu disebutkan bahwa karya saya mendapat royalti 9 persen. Ketika saya bertanya, kenapa sih penulis mendapat royalti sangat sedikit? Dijawab, karena penerbit harus investasi mulai dari editing sampai percetakan.

Dari harga buku yang dilempar ke pasar, 50 persennya sudah buat diskon toko buku. Dan 30 persennya untuk distributor. Baru yang 20 persennya dibagi antara penerbit dan penulis.

Ini belum masalah pajak seperti yang diteriakkan Tere Liye dan Dee Lestari, yang termasuk dalam kategori penulis buku laku.

Saya juga baru tahu bahwa selama saya bekerja dengan penerbit, karya saya itu sudah bukan sepenuhnya milik saya lagi. Hak ciptanya sudah milik penerbit. Baru bisa menjadi milik saya sepenuhnya sesudah 1 juta kopi terjual atau sesudah 10 tahun dijual.

Betapa kecilnya saya waktu itu. Saya baru sadar ucapan teman pada waktu itu, bahwa menjadi penulis itu siap miskin. Karena dari sisi manapun penulis akan kalah, karena penulis membutuhkan penerbit untuk menerbitkan bukunya dan membutuhkan toko buku untuk memajang bukunya..

Pantas saja, teman-teman saya yang penulis kebanyakan menjadi filosof. "Buku itu adalah karya kita dan sebagai kebanggaan penulis. Bukan materinya yang kita kejar, tapi lebih kepada meninggalkan jejak di dunia pustaka.." Kata-kata yang keluar dari mulut yang bijak dengan perut yang lapar.
Perut lapar?

Ya jelas. Siapapun pasti membutuhkan materi untuk menyambung hidupnya. Apalagi dia punya keluarga dengan sekian anak yang selalu ribut minta makan dan mainan. Kebanggaan sudah tidak ada artinya lagi ketika berhadapan dengan situasi ini.

Dan karena itulah, banyak teman penulis yang tidak membanggakan profesi penulis sebagai pekerjaannya. Mereka tetap bekerja di sektor riil, jadi pegawai atau jadi pengusaha. Lama-lama menulis pun dilupakan karena tekanan hidup menuntut semakin besar.

Padahal karya mereka bagus-bagus, dan mereka akhirnya hilang seperti debu tertiup angin kencang.
Saya tidak mau seperti mereka yang menyerah pada keadaan. Saya ingin membalikkan situasi bahwa penulis harus menjadi profesi. Untuk itu saya membuat eksperimen, bagaimana caranya saya menulis, kemudian membuat buku sendiri dan menjualnya sendiri. Saya tidak ingin ketergantungan pada jaringan besar penerbit dan toko buku.


Bagaimana hasilnya? Kita nanti ketemu di tulisan kedua, PENULIS BISA JUGA KAYA. Saya mau seruput kopi dulu untuk mengingat kembali memori lama..