Sabtu, 23 September 2017

TUHAN DALAM SELEMBAR KARTU

BPJS
Wawancara
Kemarin bersama beberapa teman, kami mencoba melakukan survey tentang kesehatan. Survey ini bertujuan untuk melihat apakah program Kartu Indonesia Sehat atau yang kita lebih kenal dgn nama BPJS, betul-betul berguna untuk rakyat.

Kami kemudian menghubungi beberapa narasumber yang pernah menggunakan KIS itu, terutama mereka yang terkena penyakit sangat berat.

Salah satu narasumber kami menderita penyakit thalassemia.

Thalasemia adalah ketidak-mampuan tubuh memproduksi sel darah merah dan hemoglobin. Bisa dibayangkan, apa yang terjadi pada diri kita ketika unsur terpenting dalam diri kita ternyata tidak mampu memproduksi sendiri. Yang terjadi adalah kerusakan dalam organ-organ tubuh.

Pada waktu wawancara, kami seperti di bawa ke dunia lain, yaitu dunia dia. Dunia dimana kesulitan adalah teman akrabnya, baik kesulitan psikis maupun materiil. Ia menceritakan tentang pertarungan seumur hidupnya.

Entah berapa ratus juta dia harus keluar uang, jika dia harus menanggung sendiri semua biayanya. Kartu Indonesia Sehat itu betul-betul sangat membantunya. Pengurusannya pun tidak sesulit dari apa yang dibayangkan selama ini.

Ia mendapat pelayanan yang tulus dari dokter dan perawat di sebuah rumah sakit, yang tidak membedakan fasilitas untuk mereka. Padahal, setahu saya, dokter dan perawat di bayar sangat murah jika pengguna menggunakan fasilitas KIS itu.

Dari cerita tentang keberanian seorang penderita Thalasemia, kami beralih ke narasumber lain, seorang bapak yang terkena stroke bersama anaknya.

Sang bapak sedang memancing ketika tiba-tiba stroke menyerangnya. Sekujur tubuhnya lumpuh dan dia ditolong oleh orang sekitar, dilarikan ke rumah sakit terdekat. Apa daya, rumah sakit itu menolaknya bahkan sebelum tubuhnya sampai di dalam ruangan untuk mendapatkan pemeriksaan cepat.

Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit lainnya, yang juga menolaknya. Ada 3 rumah sakit yang menolak, sebelum ia diterima di sebuah rumah sakit - sesudah keliling selama 24 jam - dan mendapatkan perawatan disana. Terlambatnya pertolongan membuat penyakitnya semakin parah. Untunglah nyawanya masih terselamatkan..

Dalam proses wawancara ini, saya mendapatkan cerita tentang malaikat dan iblis secara bersamaan. Betapa masih banyak rumah sakit yang lebih mementingkan uang daripada nyawa seaeorang. Ironis memang.

Itulah kenapa ketika anak saya bercita-cita ingin menjadi dokter, aku berkata, "Dokter itu pengabdian nak, bukan peluang. Siapkah kamu nanti miskin dalam materi tetapi kaya dalam amal ketika sudah memutuskan untuk mengabdi kepada manusia lain ?"

Hampir semua narasumber menangis ketika bercerita. Mereka bukan menangis sedih, tetapi bahagia. Bahagia karena dibalik kesulitan mereka, pemerintah masih memperhatikan nasib mereka sehingga sedikitpun mereka tidak keluar biaya..

Tidak terasa, mata saya berat mendengar cerita-cerita mereka. Saya keluar dan lebih baik menunggu diluar. Antara rasa syukur yang tidak terhingga karena saya masih diberi kemudahan, bercampur dengan rasa haru yang luar biasa.

Hidup itu sesungguhnya perjalanan, kata secangkir kopiku. Belajarlah pada manusia yang kau temui di jalan. Di mereka banyak hal menarik yang akan diceritakan, untuk menemukan siapa dirimu sejatinya. Ah, kuangkat ranselku dan kuteruskan kembali perjalanan yang semakin menarik ini.