Rabu, 25 Oktober 2017

SEPUCUK SURAT UNTUK BIRGALDO SINAGA

Birgaldo Sinaga
Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga
Saya membaca bagaimana teman saya Birgaldo Sinaga banyak diserbu saudara-saudaranya seiman hanya karena ia dengan konsisten mengkritik perilaku sebagian umat Kristen yang sibuk berlindung di balik kata “kasih” yang malah melemahkan dirinya sendiri.

Saya jadi ingat sejak tahun 2011 lalu, ketika sering mengkritik perilaku mereka yang mengaku ustad dan ulama tapi melakukan pembodohan berjamaah. MasyaAllah, saya diserang kiri kanan, teman, sahabat bahkan saudara pun menjauhi saya.

“Kamu suka mengadu domba dan menjelek-jelekkan Islam...” Begitu kata mereka.

Saya sendiri sempat bingung, ketika ingin menyampaikan pandangan yang jujur tentang kelakuan orang yang mengatas-namakan agama ini, ternyata tidak semua bisa menerima. Mereka lebih senang berpura-pura bahwa jika kamu beragama Islam, sudah pasti ahlakmu bagus, apalagi kalau itu ustad atau ulama.

Tapi saya tidak bisa berpura-pura seperti itu. Ada kegelisahan yang harus saya tuangkan, bahwa bukan begitu contoh seorang ulama.

Logika sederhana saya berkata, bahwa tidak mungkin seorang yang cinta dunia mengajarkan tentang akhirat. Dunia dan akhirat adalah dua sisi yang sangat berbeda. Orang yang bicara tentang akhirat sudah pasti adalah mereka yang selesai dengan dunianya.

Saya pun cuek. Mending saya tumpahkan daripada saya harus berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Mungkin karena terbiasa jadi BTL, Batak tembak langsung.

Mengalirlah tulisan-tulisan saya dengan judul seram, “Ulama berbaju iblis”, “Islam yang lemah”, “Kaum buih di lautan” dan banyak lagi tulisan yang mengkritik bagaimana terjadi simbiosis mutualisma antara mereka yang membodohi dan yang mau dibodohi.

Dan semakin banyak yang membenci, tapi saya semakin tidak perduli.

Saya yakin, di balik mereka yang aktif komen di media sosial, ada jumlah yang lebih banyak yaitu para silent reader, yang lebih senang membaca daripada menulis komentar. Mereka yang ingin mencari ilmu tapi tidak mau berdebat, membiarkan akal sehat mengalir memenuhi ruang otak.

Benar saja, pelan-pelan saya mendapat banyak teman baru yang satu visi. Mereka yang mempunyai kegelisahan yang sama bahwa ada yang tidak beres yang terjadi di sekitar kita. Kami pun saling berkomentar, saling becanda dan mengejek perilaku-perilaku aneh yang tidak masuk akal di kalangan pemeluk agama Islam ini..

Salah satu teman yang satu visi dan akhirnya bertemu muka adalah Permadi Heddy Setya aka Ustad Abu Janda al-Boliwudi...

“Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri, entah seberapa sulitnya medannya..” begitu kata seorang sahabat.

Dan -sesudah beberapa tahun lamanya- saya akhirnya menemukan nilai-nilai kebenaran dari banyaknya sahabat yang berakal sehat yang duduk dan ngobrol tentang bagaimana susahnya hanya untuk menjadi manusia saja..

Jadi bro Birgaldo, jangan pernah lelah untuk menyuarakan apa yang harus disuarakan. Perjuangan tidak akan mudah, tapi itulah yang membuat kita akan dikenang.

Satu pesan pribadi, tolong kurangilah foto-fotomu itu. Palak kali pala awak, liat kau bersliweran di beranda. Nanti kupanggil inang-inang biar ditokoknya kau. Ini kopi, kau ambil gitar, nyanyikanlah dulu lagu kita itu...


“Buteeeeeeeeetttt.. dipangungsian do amangmu ale butetttt...”