Minggu, 26 November 2017

BADAN USAHA MICIN NEGARA

Joko Widodo
Jokowi
“Bang, dengar-dengar 800 BUMN akan di jual Jokowi ya..”

“Ah, salah denger kali. BUMN kita cuman 118 buah perusahaan kok... Mungkin yang dimaksud anak-anak perusahaan BUMN itu kali. Kalau itu, mungkin saja..”
“Kenapa dijual ?”


“Ya karena gak efektif. Masak ada anak perusahaan BUMN besar buka laundry atau catering? Kan gak cocok ya.

Kalau misalnya BUMN itu bergerak di bisnis pertambangan, misalnya, ya fokus di tambang jangan mikir bisnis laundry. Kalau mau bikin anak perusahaan, ya yang tetap fokus di tambang..”

“Oh begitu.. jadi selama ini anak-anak perusahaan itu yang bikin BUMN jadi gak efektif dan merugi ya ?”

“Ya, itu salah satu faktornya. Karena gak fokus, hasil dari kegiatan utamanya malah membiayai atau menutupi kerugian anak perusahaannya. Tenaga kerja jadi banyak dan tidak efektif.

Selama ini BUMN hanya jadi tempat penggemukan dan sapi perah saja. Daripada jadi beban, ya di hilangkan dengan cara di jual kepada swasta yang fokus di bidang itu. Negara akan dapat pemasukan. Kalo BUMN ramping, mereka jadi lebih lincah bergerak..”


“Lha kalau ada anak perusahaan yang menghasilkan gimana?”
“Dilihat dulu. Kalau menghasilkan, maka ia akan di merger dengan anak perusahaan BUMN lain yang bergerak di bisnis yang sama. Ini wajar kok, semua perusahaan yang profesional pasti akan melakukan yang sama, negara juga..”

“Oh, berarti isu Presiden mau menjual 800 BUMN itu hoax ya, bang..”

“Bukan hoax, cuman ada yang memelintir berita dengan tujuan seolah-olah Presiden ini tukang jual aset-aset negara. Biasalah, menjelang pilpres senjata fitnah harus dikeluarkan biar ada harapan menang...”

“Kalau abang Presiden, kira-kira BUMN apa yang ingin abang bangun?”.

“Mungkin BUMN yang produksi micin ya. Karena banyak penyuka micin di Indonesia. Di Jakarta aja ada 58 persen yang suka konsumsi micin. Micin membuat mereka berfikir bahwa bumi ini datar dan mereka tinggal di ujungnya...”

“Wah, trus siapa Direkturnya yang tepat ?”
“Kita tidak perlu eee over spekulasi, karena ini eee masalah balutan yang aksesabilitas. Yang cocok eee Bi Narti...”

Hening.