Sabtu, 04 November 2017

SEORANG AHOK

Penjara
Ahok
Tadi siang saya dapat kesempatan menjenguk Ahok lagi.

Ini pertemuan kedua sesudah yang pertama saya bertemu dengannya pada awal dia di penjara.


Kali ini Ahok tampak berbeda. Dia jauh lebih sehat dan tubuhnya berisi. Hari-harinya dia pakai untuk berolahraga. Saya kagum dengan perubahan fisiknya.

Selain itu ia tampak jauh lebih tenang, dibanding ketika pertama kali masuk dulu. Ia sudah mampu beradaptasi dengan suasana dan terutama berdamai dengan dirinya sendiri.

Ia menyambut rombongan kami dengan ceria dan tidak tampak lelah meski kami adalah rombongan yang entah keberapa yang datang padanya pada hari ini.
Dan seperti biasa ia mendominasi pembicaraan. Itulah satu-satunya yang tidak berubah darinya.

Dan sayapun tidak bosan untuk menjadi pendengar yang baik. Karena ada banyak pelajaran yang saya dapat darinya, terutama karena di dalam penjara ia banyak melalap buku yang memperkaya dirinya.


Saya meyakini setiap peristiwa ada maknanya. Dan untuk mendapatkan sebuah makna saja, seorang manusia harus dikupas dulu berhala dalam dirinya, hanya supaya ia mengerti. Hanya supaya ia mengerti...

Saya pernah mengalami pengupasan itu dalam bentuk terampasnya harta. Seorang teman dengan sakitnya. Dan Ahok dengan terpenjaranya dirinya. Semua mempunyai kisah masing-masing dan tidak akan melebihi kapasitas dirinya..

Jarang ada seorang mantan pejabat yang dipenjara dikunjungi dengan cinta. Itulah yang dimenangkan Ahok, dibalik kekalahannya.

Saya pergi meninggalkan banyak kesan dan pesan tentang perjalanan hidup seorang manusia. Ahok merengkuh pundak saya dari belakang seperti gerakan memijit. Ia seperti memberikan semangat buat saya untuk terus berjuang.

Bukan saya yang memberinya semangat, tetapi dia..

Tongkat estafet yang dia berikan, terus akan kubawa sampai ada seseorang yang bisa menjaganya..


Sampai ketemu lagi, Ahok.. Kita akan bertemu kembali di medan peperangan yang baru nanti...