Minggu, 03 Desember 2017

IBADAHNYA AZAZIL

Hawa Nafsu
Iblis Azazil
“Pa, ceritakan tentang iblis..”.

Ayahku memeluk tubuhku yang kecil. Ia sering bercerita sejarah dan karakter pelakunya. Dari sana ia mengajarkanku banyak hal tentang bagaimana menjadi manusia..

“Dulu, jauh sebelum manusia diciptakan, bangsa jin adalah mahluk yang pertama ada. Ia diciptakan dari api.

Di antara bangsa jin, ada yang namanya Azazil. Azazil adalah sosok dari bangsa jin yang sangat taat beribadah. Tidak ada yang bisa mengalahkan ritual ibadahnya. Kabar bercerita, bahwa ia beribadah selama 60 ribu tahun lamanya.

Bahkan ia dianggap malaikat..

Saking taatnya Azazil, bangsa jin mengangkatnya sebagai Imam. Ia menjadi rujukan bagaimana seharusnya beribadah kepada Tuhan...”

Aku mengangguk2 dengan kepala kecilku, masih belum begitu mengerti tetapi ceritanya sangat menarik.

“Sampai satu waktu, Tuhan memutuskan untuk menciptakan seorang manusia dari segenggam tanah. Manusia pertama itu dinamakan Adam. Dan ketika Adam tercipta, semua bangsa jin diminta tunduk padanya..

Hanya Azazil yang tidak mau. Ia merasa bahwa dirinya jauh lebih mulya - karena diciptakan dari api - dan jauh lebih taat kepada Tuhan daripada mahluk yang baru diciptakan itu.

Akhirnya Azazil dikutuk tidak akan pernah merasakan harumnya surga karena membangkang. Kesombongan menelan semua amal ibadahnya menjadi tidak berguna..”

Cerita yang selintas itu terus menghantui benakku. Aku belum mendapat pelajaran maknanya pada waktu itu. Hanya sebagai sebuah cerita pengantar tidurku..

Hingga ketika aku dewasa, ayahku menyambung ceritanya yang terputus dahulu sebagai nasihat kepadaku..

“Ketika kamu melakukan maksiat, itu sejatinya bukan sepenuhnya akibat godaan iblis atau Azazil. Tetapi lebih karena besarnya hawa nafsumu, yang tidak mampu kamu kendalikan.. “

“Lalu dimana peran Azazil menyesatkan manusia ?” Tanyaku heran.

Ayahku tersenyum. “Ketika kamu sudah merasa beriman. Azazil tidak ingin manusia lebih taat darinya dalam hal ibadah.

Karena itulah ia menitipkan benih kesombongan dalam hati manusia yang merasa sudah beriman, supaya ia merasa dirinya benar, padahal apa yang ia lakukan adalah kesalahan besar. Seperti dirinya. Seperti Azazil..

Dendam Azazil kepada anak cucu Adam, tidak akan pernah punah sampai akhir masa..”

Sesudah puluhan tahun berlalu dan ayahku sudah pergi meninggalkanku, barulah aku mengerti apa yang pernah ia ucapkan dahulu...

Sesungguhnya ibadah itu ibarat pisau bermata dua. Menjadikan manusia berahlak sempurna atau menjadi mesin perusak karena memelihara kesombongan di dadanya..

Secangkir kopi menenangkanku sambil mengingat kembali wajah almarhum yang tersenyum sebelum kepergiannya.


“Menjadi ahli ibadah itu mudah, nak. Yang sulit adalah menjadi manusia...”