Rabu, 27 Desember 2017

JANGAN COBA-COBA KRITIK ABDUL SOMAD KALAU TIDAK MAU KENA AZAB

Abdul Somad
Screenshot Twit Top Skor
Pagi ini membaca berita. Seorang jurnalis di media online TopSkor, dipecat. Namanya Zulfikar Akbar. Ia mengkritik Abdul Somad lewat cuitannya. Dan hasilnya, ia dipersekusi lewat cuitan juga yang membuat akhirnya ia dipecat dari pekerjaannya.


Isi twitnya “Ada pemuka agama rusuh ditolak di Hong Kong, alih² berkaca justru menyalahkan negara orang. Jika Anda bertamu dan pemilik rumah menolak, itu hak yang punya rumah. Tidak perlu teriak di mana-mana bahwa Anda ditolak. Sepanjang Anda diyakini mmg baik, penolakan itu takkan terjadi.”

Sebuah kritikan halus sebenarnya, tanpa penghinaan, tanpa cacian, tanpa fitnah. Kalaupun ia menyebut “rusuh”, tampaknya Zulfikar berkaca pada kejadian di Bali yang memang sempat rusuh.

Cuitan ini di retwit banyak orang yang akhirnya melahirkan hastag #boikotTopSkor yang trending. Dan akhirnya redaksi TopSkor mengambil keputusan memecat si jurnalis.


Siapa yang salah disini?

Abdul Somad jelas tidak salah, karena ia tidak boleh dikritik sedikitpun sebab ia ulama. Ingat, sesalah-salahnya ulama adalah sebaik-baiknya kita. Begitu kata Yusuf Mansur sambil mendekapkan tangan di dada dalam episode “Jangan ditiru”.

Ulama selalu benar. Meskipun ia mengkafir-kafirkan, meskipun ia penyuka khilafah, meskipun ia memesek-mesekkan hidung orang. Dia pasti benar, karena memang harus begitulah jalan untuk menuju surga.

Apakah redaksi TopSkor salah dengan memecat jurnalisnya?

Tidak, mereka benar...


Sebagai sebuah media online, yang hasilnya dari iklan klik, bahaya ketika ada yang teriak BOIKOT!”. Bakalan tidak ada yang mampir ke situs dan mengklik iklan lagi. Perusahaan bisa bangkrut.

Ingat kisah Sari Roti dan Equil yang sekarang sedang menuju bangkrut karena boikot? Perusahaan begitu besar saja di boikot akan bangkrut, apalagi hanya media online.

Facebook dan Google pun dikabarkan akan bangkrut karena diboikot 50 juta orang. Mengerikan memang..

Jadi siapa yang salah??

Ya, Zulfikar Akbar!!

Yang salah kenapa namanya Zulfikar??

Zulfikar itu pedang Nabi Muhammad yang diwariskan kepada Imam Ali. Pedang itu terkenal tajam dan bisa memilih musuh dengan benar. Pedang itu adalah simbol pertahanan diri, bukan agresi.


Dan pada masa sekarang, pedang tergantikan oleh PENA, yang jauh lebih tajam karena setiap kali diayunkan bisa membabat ribuan kepala picik dan otak dangkal yang bisanya hanya memakai otot dalam bertindak.

Zulfikar Akbar juga salah kenapa berada di tempat yang salah? Yang takut membelanya hanya karena diancam untuk di boikot oleh orang-orang yang juga belum tentu membaca media perusahaannya..

Dan terimalah azab itu Zulfkar Akbar, karena mengkritik seorang yang sangat suci dan tidak bisa disentuh bahkan oleh tulisan. Seseorang yang bahkan dewa-dewa langitpun akan turun membelanya karena ia selalu benar, benar dan benar.

Kalau ia salah, BENARKAN!

Terimalah azabmu, Zulfikar Akbar. Mungkin sudah saatnya kamu menjadi penulis independen yang tidak terikat oleh perusahaan yang takut-takutan karena ayunan pedangmu yang tajam.

Mending sarungkan pedang Nabi itu, dan mulailah hidup dengan benar. Hidup sesuai apa yang mereka perintahkan kepadamu untuk “mending cara makan aja dan diam supaya selamat..”

Seperti mereka yang sangat bangga dengan gelar “Silent Majority” itu..

Semoga kamu, Zulfikar Akbar bisa mengambil pelajaran dari situasi ini dan nikmatilah azab yang sedang melandamu sekarang ini..

Kalau perlu ngopi dulu, biar tenang pikiran. Pahamilah, bahwa takut adalah sebagian daripada iman..

Dari saya,

Denny Zulfikar Siregar..