Kamis, 07 Desember 2017

LICIKNYA GERAKAN HIZBUT TAHRIR

Ormas
Ormas HTI
Sementara ini bisa dibilang agenda HTI berhasil. Pasca “dipukulnya” HTI oleh Jokowi dengan Perppu Ormas, HTI sempat seperti burung yang sayapnya patah. Ia terombang-ambing mencari “keadilan” yang tampaknya makin jauh dari kenyataan.


Tapi Hizbut Tahrir bukan organisasi kemarin sore memang. Gerakan mereka terbukti sudah ditakuti banyak negara, karena mereka sistematis dan militan. Karena itulah negara-negara tersebut lebih baik memenggal kepala ular itu dan menangkapi banyak pentolannya..

Belajar dari itu, Hizbut Tahrir Indonesia memakai taktik baru. Panji boleh dilarang berkibar, tetapi ideologi tetap jalan.

HTI menggunakan bendera yang mereka sebut “Panji Rasulullah” sebagai tamengnya. Bendera hitam dan putih ini sudah identik dengan HTI, karena merekalah yang mempopulerkan dan menggunakannya dalam aksi demo di jalan.

Dengan bendera itu, sulit bagi aparat untuk menindak HTI karena nanti dianggap bertentangan dengan umat Islam. HTI pun masuk ke dalam aksi-aksi massa besar dengan bendera itu sekaligus menggaungkan ideologi khilafah dalam setiap kesempatan.

Strategi kedua HTI adalah menyebar “ustad-ustad” mereka yang piawai menyihir massa untuk menguasai momen besar seperti tabligh akbar dan Maulid.

Rencana ini sebenarnya tercium oleh Ansor dan Banser, dan serentak mereka bergerak mencegahnya. Disinilah saya melihat kehebatan orang-orang HTI - sekaligus kelicikannya.

HTI menggunakan ormas berbeda untuk melindungi dirinya. Dengan bahasa manis “persatuan Islam”, mereka merangkul salah satu ormas besar sekaligus memukul ormas besar lainnya.


Ansor dan Banser tahu bahwa mereka akan diadu, dan jika terjadi bentrokan, maka kerugian besar akan terjadi. Saya salut dengan langkah Gus Yaqut Ketua GP Ansor yang paham situasi dan mundur selangkah untuk mendinginkan suasana.

Ketika Ansor dan Banser mundur selangkah itulah, HTI menggunakan kekuatan pasukan dunia mayanya yang militan, untuk “menghabisi” karakter Ansor dan Banser sebagai “ormas pembubar pengajian”.

Ini strategi cerdik sekaligus sangat licik.

HTI mengambil dua keuntungan sekaligus. Pertama, nama Banser dihancurkan, kedua HTI merangkul Ansor dan Banser dengan tagline “persatuan Islam”.

Dengan begitu HTI yang diwakili oleh “ustad-ustadnya” akan tampak sebagai sosok yang lembut sedangkan Ansor dan Banser sosok yang berangasan.

Dan situasi ini tidak didiamkan begitu saja oleh mereka, harus ada propagandanya. Maka meluncurlah tagline “Ustad pemersatu Islam”.

Dahsyat memang permainan caturnya.

Hizbut Tahrir Indonesia ini memang ular berkepala tiga. Mereka bisa dengan enak menyebutkan demokrasi di Indonesia itu haram, tapi pada satu kesempatan dimana mereka terpojok, mereka bisa menjadi sosok-sosok yang mengagungkan NKRI.


Mereka yang dulu membidahkan Maulid Nabi, mendadak cinta Maulid. Dan tiba-tiba saja bilang, “Kami ini juga dari NU”. Siapa coba yang bisa bermain seperti itu kalau bukan orang yang culas dan menghalalkan segala cara?

Lalu kemana arah strategi HTI sebenarnya? Jangka pendek, jelas Pilpres 2019. Jangka panjang NKRI bersyariah, bahasa halus dari khilafah.

Dendam HTI kepada Jokowi itu luar biasa. Hanya pada masa pemerintahan Jokowi inilah, eksistensi mereka terhenti total dan terpaksa mereka harus bersembunyi dan berpura-pura cinta Indonesia.

HTI dengan mudah nemplok parpol, lengket dengan ormas, bersinergi dengan penguasa, selama tujuan mereka sama. Bahkan ketika orang-orang HTI ada di dalam sebuah organisasi, mereka dengan lihai mengambil alih kendali.

Jadi paham kan kenapa banyak negara di dunia melarang keberadaan Hizbut Tahrir dan menangkapi para pengikutnya?

Page saya diserbu oleh mereka untuk di matikan sejak dulu, tapi saya tetap ada.

Sekarang mereka memenuhi page dengan komentar-komentar yang ingin menghancurkan kredibilitas saya, sama seperti apa yang mereka lakukan dengan Ansor dan Banser. Perlu mata yang tajam untuk melihat gerakan HTI -dan secangkir kopi- supaya bisa membuka topeng-topeng mereka. Seruput.