Minggu, 03 Desember 2017

SEORANG “MUSLIM” KE GEREJA

Indonesia
Indonesia
“Kamu ngaku aja kalau Kristen, buktinya suka ke Gereja”. Saya suka terkikik sendiri kalau baca komen seperti ini. Senang mengerjai orang-orang fanatik seperti ini. Kalau perlu jangankan ke gereja, bahkan kalau ada undangan ke kelenteng ataupun vihara pasti saya jabanin.
Memang tahun ini weekend saya banyak saya habiskan di Gereja. Saya berkunjung dari gereja ke gereja, diundang oleh baik gereja Katolik maupun Protestan. Ngapain aja? Ya, apalagi kalau bukan bicara kebangsaan, tentang negeri yang tercinta.

Kenapa mesti takut ke tempat ibadah umat lain? Saya pun heran dengan sikap paranoid sebagian manusia yang begitu rapuh imannya.

Apakah kemudian dengan berkunjung ke tempat ibadah saudara-saudara saya yang bukan seiman, membuat iman saya berubah? Ah, agama itu petunjuk bagi saya. Jalan menuju kebaikan.

Jangankan sempat berfikir petunjuk lain, petunjuk saya sendiri belum selesai saya kupas, baru di permukaan saja.

baca Kita Semua Bersaudara

Ketika saya berada di Gereja, saya selalu terhempas rasa haru yang dalam. Betapa tidak, saya dan mereka yang di Gereja yang mengundang saya untuk bicara, sesungguhnya sedang merobek-robek baju kebanggaan agama kami.

Agama buat kami adalah nilai-nilai spiritual, bukan hanya ritual. Urusan agama adalah urusan kami dengan Tuhan, sedangkan urusan kami adalah bagaimana berbuat kebaikan kepada sesama manusia, terlepas apapun bajunya.

Dan yang paling menarik ketika berada di Gereja, adalah saya bisa memberikan pandangan-pandangan terbaik di agama saya kepada mereka. Biar mereka tidak melihat Islam dari kacamata ekstrimis berbaju agama, tetapi minimal lihatlah Islam dari kacamata saya.

“Abang muslim?”.

Tanya seseorang lagi. Saya biasanya tambah ketawa. Buat saya, konsep “muslim” adalah pencapaian, bukan klaim semata. Saya sedang berusaha menujunya.

Mungkin saya baru 0,000001 persen menuju ke muslim. Itu pun baru sebatas klaim, karena yang berhak menilai saya muslim ataukah kafir, hanya Tuhan semata. Bukan manusia yang lemah dan penuh dosa.

Setahu saya, mahluk yang pertama kali di alam semesta mengklaim dirinya sebagai yang paling taat kepada Tuhan, adalah iblis. Tuhan menguji ketaatannya dengan terciptanya Nabi Adam as, dan menyuruh iblis tunduk kepadanya.

Iblis menolak keras, karena dia berasumsi bahwa dialah yang paling mulya dan paling taat beribadah.

baca BERSUARALAH, JANGAN LAGI DIAM

Itulah kenapa saya menolak berasumsi seperti iblis, yang mengklaim bahwa dirinya adalah seorang “muslim”. Jangankan ke tingkat mukmin, menuju muslim saja berat langkahnya.

“Mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan”, begitu kata Imam Ali dalam “bisikannya” di setiap renungan saya terhadap konsep kemanusiaan.

Begitu dalam maknanya, membuat saya ingin terus berjalan mencari diri sendiri yang telah lama hilang dengan mengunjungi banyak tempat dan manusia.

Saya ingin menghabiskan hidup seperti secangkir kopi, yang bisa berada dimana saja, tetapi tidak pernah kehilangan kenikmatannya. Seruput dulu, saudara-saudaraku dalam kemanusiaan.