Minggu, 21 Januari 2018

INDONESIA BISA BAYAR HUTANG KOK, CIN

Hutang
Jokowi
Bisakah Indonesia membayar hutangnya?

Untuk melihat bisa atau tidaknya, kita harus melihat ukurannya atau nama kerennya indikator.

Indikator yang biasa dipakai biasanya adalah dari PDB atau Produk Domestik Bruto.

Ah, daripada pusing istilah kita sederhanakan aja bahwa PDB itu adalah jumlah pendapatan semua perusahaan di Indonesia baik dalam barang maupun jasa.

Jadi, pendapatan dari kegiatan usahamu digabungkan dengan seluruh usaha2 lain di seluruh Indonesia itulah yang disebut PDB..

Nah, jumlah hutang kita sekarang - biasa disebut rasio - kurang dari 30 persen dari seluruh jumlah pendapatan kita secara nasional. Jadi pendapatan kita jauh lebih besar dari hutang kita..

Kalau pendapatan lebih besar dari hutang, ya amanlah.. Kita pasti bisa bayar hutang. Apalagi UU juga membolehkan kita hutang asal jangan sampai lebih dari 60 persen dari pendapatan kita.

Sampai sini ngerti kan ? Aakk dulu... (suap micin ke teman yang habis digebuk pake sapu lidi oleh ibu warung sebelah karena belum bayar hutang)

Selama pendapatanmu lebih besar dari hutangmu, gak papa.

Karena itu besarkan terus pendapatan di negeri ini dengan membangun infrastruktur di daerah-daerah supaya ekonomi tumbuh disana. Kalau ekonomi tumbuh, maka pendapatan kita juga naik. Lama2 pasti rasio hutang kita turun karena bertambahnya pendapatan..

Indonesia kalau dari sisi hutang jauh lebih aman daripada negeri lain. Aakk.. (suap lagi)

Contohnya Jepang. Nilai hutangnya 250 persen lebih besar dari pendapatan di negerinya. Amerika saja lebih dari 100 persen. Kita hutangnya cuman kurang dari 30 persen. Kan keren...

“Terus kok Jepang dan Amerika masih ada yang mau ngutangi ?” Mangap.

Ya, itu tadi. Karena meski hutang mereka segede gajah kembung kebanyakan angin, mereka tetap disiplin membayar cicilan hutangnya. Itulah yang diperlukan, kepercayaan..

Karena itu jangan sekali-sekali tidak bayar cicilan hutang, nanti gak dipercaya lagi. Lagian DPR juga tahu kok kenapa kita masih dan butuh hutang, itu sebab mereka juga selalu kasih persetujuan..

“Jadi aku harus bayar cicilan hutang micin di warung si ibu supaya gak digebukin lagi ?”

Iya dong. Nanti kamu gak boleh ngutang lagi di warung, gak bisa konsumsi micin. Akibatnya badan lemas, mata berkunang2, dan teriak ngawur gak keruan..

“Hutangin gua dong buat bayar hutang si ibu..”

Kalau tidak produktif ya begini ini, hutang dibayar pake hutang lagi. Gali lubang tutup lubang. Pekerjaan gak ada, bisanya cuman teriak aja berharap semua masalah selesai dengan “prok prok abrakadabra dibantu yaaa”.

Temanku ini memang gak butuh Presiden, dia hanya butuh tukang sulap yang bisa membantu ekonominya sekejap mata. Dan buat dia, untuk mengatasi masalah ekonominya karena tidak punya kerja, akhirnya khilafahlah solusinya..

Kulihat matanya terpejam akibat mabok micin. Mungkin dia sedang mimpi indah nyanyi jaran goyang di surga bersama 72 Via Vallen sambil joget berjamaah..

“Aakkk lagi dong...” Terdengar sayup suaranya lemah mengganggu keasikan ku ngopi di siang hari..

Aku ke gudang. Kuambil sekop aja sekalian biar nyendokinnya gampang..