Rabu, 24 Januari 2018

JAMBU BIJI JALAN KE SURGA

Inspiratif
Bapak Irian Barat
Namanya lumayan lucu, Irian Barat..

Irian Barat ini seorang petani di Bengkulu. Ia kebetulan punya tanah seluas 2 hektar di desanya. Tanahnya ia tanami padi, kopi dan jambu biji.

Kenapa jambu biji ? “Saya tanami jambu biji supaya orang yang lewat bisa makan jambu sepuasnya. Saya tahu mereka pasti haus dan lapar. Saya dapat pahala supaya bisa masuk surga..” kata Irian Barat.

Menarik cara memandang “pahala dan surga” dari sisi petani kecil seperti Irian Barat ini. Ia tidak melihat surga dengan konsep masyarakat umumnya. Beribadah ritual yang kuat supaya diberi kunci menuju kesana. Atau membangun rumah2 ibadah yang besar supaya Tuhan betah menginap disana..

Belum lagi ada yang umroh dan haji berkali2 untuk mencuci dosa disana. Atau berpakaian gamis, berjenggot, copy paste ayat dan hadis dimana2 dan selalu ada di majelis berbicara tentang surga, seakan2 dirinya sudah ada disana..

Irian Barat mencari jalan ke surga melalui jambu biji. Jambu biji yang ia gratiskan, ia sengaja sediakan, untuk orang yang sering lewat di daerahnya dan sering kehausan juga kelaparan.

Seharusnya kita malu dengan pak Irian Barat ini...

Kita yang terbiasa bermewah2 dengan segala aksesoris dunia, berlebih2an dengan segala harta yang ada, mendapat fasilitas lebih baik dari sebagian besar manusia, tapi kita bahkan tidak terpikir bagaimana memanfaatkan semua itu untuk membantu sesama manusia..

Saya adalah orang yang percaya pada adanya hari pengadilan kelak. Karena secara logika, keberadaan manusia di bumi bukanlah sesuatu yang sia-sia. Kita ada untuk berfungsi kepada sesama manusia.

Karena itulah ada waktunya kita akan dimintai pertanggung-jawaban atas segala apa yang kita lakukan di dunia..

Dan saya terbayang ketika saya berada di hadapan yang kuasa, dan ditanya, “Untuk apa semua hartamu yang Kuberikan selama di dunia ? Untuk apa semua kepintaranmu yang Kuanugerahkan kepadamu di dunia ? Coba beberkan semua...”

Dan saya tidak bisa menjawab apa2.

Saya pengumpul harta dengan banyaknya tabungan dan rumah, tapi semua hanya untuk pemenuhan hasrat kepemilikan saja. Saya orang pintar yang sibuk dengan kebanggaan diri saja.

Saya gemetar, sibuk menghitung segala macam yang saya punya di dunia, tapi sedikit yang saya manfaatkan untuk membantu sesama manusia. Saya menjadi orang yang sia-sia dan tidak berguna selama diberikan kesempatan hidup di dunia..

Pak Irian Barat punya sesuatu. Orang yang pernah lewat dan terbantu dengan jambu bijinya maju bersaksi dan mereka berterimakasih. Ribuan manusia. Betapa kayanya dia ketika di akhirat dan betapa miskinnya saya dengan semua kegemerlapan yang saya punya..

Tuhan berbicara kepada manusia melalui peristiwa. Tuhan juga menitipkan pesanNya melalui manusia. Manusia diberi akal untuk mendapat pelajaran dari apa yang didapatnya..

Setiap kali secangkir kopi terhidang di depan mata, benak saya selalu bertanya, “Apa bekal saya untuk menuju perjalanan kedua nanti ? Jangan2 ransel saya kosong tak berisi..”


Sebuah pertanyaan yang terus saya bawa sampai kini.