Minggu, 14 Januari 2018

KITA IMPOR BERAS LAGI

Impor Beras
Beras
Pada saat acara APEC di Tiongkok 2014 lalu, Jokowi didatangi Presiden Vietnam Truong Tan Sang..

“Presiden Jokowi, kapan beli beras dari kami lagi?” Tanya Tan Sang dengan senyum lebar. Momen itu adalah momen paling memalukan bagi Jokowi, apalagi dia baru saja dilantik menjadi Presiden.

Sejak tahun 2004, saya mencatat, bahwa impor beras tertinggi ada di tahun 2011, yaitu sebesar lebih dari 2,5 juta ton. Sedangkan konsumsi beras kita nasional setiap tahun ada di angka 30 jutaan ton.

Inilah yang mau diperbaiki Jokowi dengan menciptakan visi swasembada pangan. Indonesia ini negara gemah ripah loh jinawi, kok gak bisa sih -minimal saja- memenuhi kebutuhan nasional?

Impor beras sebenarnya sah-sah saja. Bahkan China -negara yang 9 kali besarnya dari Indonesia dan penduduknya 9 kali lebih banyak dari Indonesia- masih melakukan impor beras.

Kenapa ? Karena beras adalah makanan pokok di China seperti di Indonesia juga, jadi harus dipastikan ada cadangan dan jangan sampai lumbung kosong. China impor beras 4 juta ton pertahun, sedangkan Malaysia masih impor 1 juta ton pertahun.

Nah, bagaimana jika seandainya cadangan beras kurang, entah karena panen gagal ataupun karena permainan spekulan ?

Tentu harga naik gila-gilaan. Di akhir tahun 2017 pun harga2 sudah merangkak naik di beberapa wilayah Indonesia. Banyak orang marah karena harga beras sensitifitasnya masih tinggi.

Isu ini berbahaya, karena bisa saja ada yang meniupkan bahwa cadangan beras kita kosong, sehingga harga beras bisa tidak terkendali dan berakibat mengganggu jalannya pemerintahan..

Karena itulah untuk memenuhi stok supaya harga kembali stabil, terkadang perlu mengambil kebijakan impor beras sebagai cadangan. Ini lebih kepada usaha menstabilkan harga saja.

Meski begitu jika harga beras turun, para petani yang marah karena mereka tidak dapat untung yang tinggi.

Beras ini seperti buah simalakama memang. Dimakan kaum bumi datar yang mati, gak dimakan bani micin yang mati (qiqiqiqiqi). Mereka emang spesial kalau masalah mati-matian gini.

Kalau mau jujur, sebenarnya di 2 tahun belakangan (2016-2017) Indonesia sudah tidak banyak lagi impor beras. Kalaupun di tahun 2016 masih ada impor itu karena kita masih terikat sisa kontrak pembelian. Setidaknya begitu kata Menteri Pertanian..

Lalu kapan kita bisa swasembada beras??

Jokowi -sejak pertemuan memalukan dengan Presiden Vietnam itu- menargetkan Indonesia harus bisa swasembada pangan dalam waktu tiga tahun.

Tapi yang namanya target, belum tentu bisa tercapai seluruhnya. Indonesia ini negeri para mafia. Jokowi harus berurusan dengan kartel pangan - termasuk beras - yang sudah menguasai ekonomi negeri ini puluhan tahun lamanya.

Ini tentu pekerjaan yang sangat berat karena ia bukan hanya berperang dengan pihak luar, bahkan juga pihak dalam yang sudah ditanam kartel bertahun lamanya untuk memainkan pangan.

Banyak hal yang harus dilakukan pemerintah. Mulai dari distribusi benih dan pupuk yang lancar sampai teknologi pertanian yang harus terus diupdate.

Masak kalah sama Vietnam dan Thailand ??

“Ya kalah lah bro..” Kata seorang teman. “Di Thailand dan Vietnam, Institut Pertaniannya fokus mengembangkan pertanian di negerinya. Nah disini, ada Institut Pertanian malah sibuk belajar khilafah dan usaha bekam..”

Mau seruput tapi kok ada pait-paitnya gitu ya..