Senin, 01 Januari 2018

PERANG PEMBENTUKAN OPINI DI MEDIA SOSIAL

Media
Media Sosial
Ada yang bertanya, “Kenapa di page abang banyak sekali para haters?”.

Sebenarnya mereka sudah ada dari dulu, hanya teriakannya berbeda. Mereka dulu suka teriak Syiah, JIL, Kafir dan sebagainya. Bahkan ada juga yang menduga saya dari Kristen HKBP yang menyusup dengan mengatas-namakan Islam.

Tapi semua teriakan mereka tidak efektif. Malah keberadaan mereka saya manfaatkan untuk terus menaikkan tulisan-tulisan sehingga tanpa mereka sadari saya malah makin profuktif..

Dan mereka merasa mendapatkan momen emas ketika saya tampil di ILC.

Pada saat saya tampil di ILC, sontak follower saya melonjak bertambah 10 ribu akun dalam waktu semalam.

Bahasa saya yang condong santun di publik dan tidak meledak, juga tidak suka berdebat layaknya politikus ketika tampil di depan televisi, mereka artikan sebagai kelemahan.

Maka julukan mulai dari ayam sayur sampai gemetaran pun mereka yakini sebagai kebenaran, karena begitu massif dan militannya serangan melalui media sosial.

Saya memang sebelumnya sudah diperingatkan oleh “seseorang” bahwa pasca Jonru di penjara, saya adalah target utama. Mereka kehilangan simbol di media sosial.

Sebenarnya ada kelompok yang ingin saya “meledak” di media sosial, dan berakibat saya terpleset bicara sehingga memudahkan mereka memasukkan laporan.

Bahasa intimidasi di ILC seperti “tidak intelektual” sampai ancaman “tidak bisa pulang..” adalah bahasa pancingan untuk menaikkan emosi sehingga saya kehilangan kontrol diri.

Dan mereka ternyata keliru, saya memilih lebih banyak diam daripada terpancing emosi. Untung ada Abu Janda yang mengalihkan perhatian.

Akhirnya strategi berubah, menjadi penghancuran karakter.

Opini publik dibentuk supaya orang melihat saya lemah sampai mereka tidak lagi percaya tulisan saya. Pola-polanya jelas, mulai dari serangan beruntun meme dan komen berulang dari akun-akun yang berbeda, gambar-gambar jorok, sampai spam berisi “angka hitungan..” supaya orang malas membaca dan pergi dari page.

Ada juga beberapa orang yang tadinya simpati kemudian terpengaruh dan ikut menyerang saya. Tapi sebagian besar teman malah melakukan serangan balik ke komen-komen mereka.

Bahkan di twitter, mereka kemudian mencoba membangun framing atas tulisan saya dan membenturkan dengan Karni Ilyas dan bu Susi. Langkah yang saya lakukan kemudian dengan cepat menarik semua mention kepada banyak orang di twitter, supaya mereka tidak terlibat dalam perang ini.

Saya jarang sekali melakukan blokir, tapi untuk spammer saya tidak ada ampun karena saya yakin itu “akun mesin”.

Perhatikan dengan seksama, sulit sekali mereka membantah prediksi yang saya keluarkan dengan bantahan yang benar kecuali caci maki dan “kembali pada ILC”. Karena hanya itu senjata mereka untuk menyerang dan tidak ada lagi yang lainnya.

Mereka tidak bisa memperkarakan tulisan saya - meski sudah mengerahkan 700 orang pengacara. Tidak bisa mengintinidasi saya, karena saya kebal ancaman. Apalagi mempersekusi, karena mereka takut dengan bayangan mereka sendiri “ada orang besar dibelakang sebagai backup” saya.

Melawan dominasi mereka di media sosial memang kudu cerdik dan membutuhkan mental baja.

Cara kelompok got mampet melakukan framing memang mengerikan. Sudah banyak tokoh mulai Said Agil Siradj, Buya Syafii Maarif sampai Kapolri mereka hantam. Tujuannya, untuk menurunkan kepercayaan kepada sosok-sosok tersebut sambil menaikkan tokoh-tokoh baru untuk melawan mereka..

Meski jenuh sebenarnya dan ingin fokus ke kerjaan, sialnya, saya harus tetap ada.

Jika saya menghilang, mereka akan melakukan framing bahwa saya selesai. Dan itu akan membungkam banyak akun pemberani yang sedang tumbuh melawan tanpa rasa takut dengan segala intimidasi dan persekusi yang mereka lakukan.

Okelah jika begitu, mumpung mereka belum punya tokoh baru di Facebook pasca ditahannya Jonru, kita hantam mereka dengan opini-opini baru. Yang setuju, seruput kopinya dulu.