Sabtu, 06 Januari 2018

SEORANG DEDI MULYADI

Jawa Barat
Dedi Mulyadi
Pertanyaan yang paling banyak datang ke saya adalah “Kenapa Dedi Mulyadi mau jadi Cawagub Deddy Mizwar?”

Pertanyaan yang wajar, karena dikira saya dekat sekali dengan Dedi Mulyadi sehingga menjadi pendukungnya. Padahal saya mendukung seseorang bukan karena kedekatan, tapi lebih kepada track recordnya..

Tapi oke, saya coba jawab..

Melihat peta Pilkada 2018, kita juga harus melihat peta Pilpres 2019.

Pilpres 2019 diprediksi sejak jauh hari akan “meledak” melalui ledakan kecil yang dibangun di Pilkada..

Informasi- Informasi yang saya dapatkan, beberapa pemain lama yang bermain dalam isu SARA di DKI sudah turun ke masjid-masjid untuk membangun kaki-kaki mereka supaya masjid bisa dijadikan ajang black campaign. Cara yang diusung apalagi jika bukan “tidak menyolatkan mayat pendukung penista agama..”

Dan dari banyak daerah yang menyelenggarakan Pilkada, Jawa Barat adalah bom atom yang paling disiapkan jauh hari sebelumnya.

Wahid Foundation tahun 2016 sudah mencatat bahwa intoleransi di Jabar menempati peringkat pertama karena hampir 80 persen pelaku bom bunuh diri berasal dari Jabar..

Kerusuhan di Jawa Barat karena politik SARA akan di bangun sistematis. Hanya isunya kali ini tidak berkisar pada Al Maidah 51, tapi isu sirik, musrik versus Islam..

Dan sasaran paling tepat untuk meledakkan SARA ini adalah pada sosok Dedi Mulyadi..

Itulah kenapa sejak awal Dedi selalu tampak disingkirkan dari peta Pilkada Jabar, karena kekhawatiran besar akan ledakan isu itu dikarenakan sosoknya..

Tapi yang tidak bisa dipungkiri juga, Dedi Mulyadi adalah sosok yang bisa meredam isu itu. Jejaknya di Purwakarta menunjukkan bahwa ia berhasil membangun program2 yang menunjukkan bahwa intoleransi itu jangan dimusuhi, tetapi harus dirangkul untuk dikembalikan pada track yang benar.

Programnya seperti pengenalan kitab kuning khas NU di sekolah-sekolah yang berisi perbedaan tafsir sehingga orang NU sendiri menjadi terbiasa dengan perbedaan, juga pengenalan kepada siswa sekolah dengan berbagai latar belakang agama dan melibatkan TNI dalam acara jemput anak sekolah sekaligus mengenalkan konsep Bela Negara, dianggap berhasil oleh pusat.

Karena itu, berbarengan dengan reformasi di tubuh Golkar, Dedi Mulyadi dinaikkan kembali menjadi bakal Calon Gubernur.

Tetapi itu tidak menyelesaikan permasalahan ketika politik di Jawa Barat terbagi dua, yaitu Nasionalis dan Agamis. Ada usaha membenturkan dua kubu ini, sehingga isu SARA akan lebih mudah menemukan jalannya.

Cara terbaik adalah merangkul -clinch- kelompok agamis tapi yang tidak ideologis seperti HTI. Dan sosok itu ada di Dedy Mizwar yang kebetulan ditendang oleh PKS karena tidak lagi sevisi dalam Pilpres 2019.

Ini sebenarnya adalah Grand Strategy. Bagaimana cara memadamkan potensi isu SARA, supaya jangan meledak dengan dampak kemana-mana.

Dedi Mulyadi yang kemaren begitu disukai oleh PDIP, lebih memilih untuk merangkul Deddy Mizwar yang masih dianggap agamis oleh pemilih di Jabar.

Dedi Mulyadi membuang peluangnya untuk menjadi Cagub yang diusung PDIP dan Golkar.

Padahal PDIP di Jabar tidak punya kader yang mumpuni untuk dijadikan Cagub. Seandainya dia berfikir hanya untuk dirinya sendiri, maka dia sudah pasti lebih menerima koalisi Golkar-PDIP supaya dia bisa menjadi Cagub.

Tetapi posisi Deddy Mizwar -yang punya survey tertinggi kedua di Jabar- bahaya jika dibiarkan kosong dan sendirian. Jika ia dirangkul lawan dan ditunggangi oleh isu SARA untuk menyerang, maka meledaklah Jabar..

Dedi Mulyadi pun harus keluar dari zona nyamannya dan merangkul Deddy Mizwar. Bahkan ia rela harus menjadi Wakil saja, padahal di tempat lain ia sudah digadang-gadang menjadi Cagub.

Ini sekaligus menjawab pertanyaan sinis beberapa orang yang menganggap bahwa Dedi Mulyadi menghalalkan segala cara demi memuaskan ego pribadinya hanya supaya untuk menang.

Seandainya Dedi Mulyadi mau, untuk apa dia hanya menjadi Cawagub jika PDIP kemarin sudah menarik dia untuk menjadi Cagub?? Coba berfikir dengan logika yang jernih dan bukan karena ketidak-sukaan pada seseorang.

Ada pengorbanan besar yang tidak bisa dilihat oleh banyak orang yang melihat politik itu hanya dari nilai Kalah atau Menang.

Dengan berada “dibawah” Dedy Mizwar, Demul sejatinya pelan-pelan membersihkan propaganda negatif yang melekat padanya sehingga ia mudah bergaul bahkan dengan kelompok agamis manapun.

Dan ia tipe pekerja, sehingga kita bisa melihat seandainya dia menjadi Wakil Gubernur pun, yang bekerja tetap dia.

Orang Sunda seharusnya bangga dengan sikap jauh dari sifat egois yang ditunjukkan Dedi Mulyadi. Itulah sifat orang Sunda sesungguhnya, menghormati orang yang lebih tua dan bisa melihat situasi dari gambaran yang lebih besar.

Bukan hanya sibuk berebut jabatan siapa yang menjadi Gubernur dan siapa yang bukan. Dedi Mulyadi berfikir untuk kepentingan nasional, bukan hanya Jawa Barat saja.

Sebenarnya saya tidak boleh menyampaikan ini, karena tidak baik mengabarkan kebaikan yang dilakukan seseorang. Saya hanya ingin tidak terjebak pada sifat prasangka buruk untuk menilai seseorang yang sudah melakukan pengorbanan besar.

Saya harus angkat secangkir kopi untuk Kang Dedi Mulyadi dari apa yang dilakukannya. Jadi paham kan, kenapa saya mengagumi sosoknya?

Semoga sukses, Kang.. bangun Jawa Barat supaya bisa menjadi identitas orang Sunda sesungguhnya yang toleran, agamis dan berkebudayaan luhur seperti seharusnya. Tidak seperti sekarang yang memalukan karena dianggap provinsi dengan tingkat intoleransi tertinggi. Seruput dulu kopinya.