Senin, 08 Januari 2018

Tidak Ada Yang Sempurna, Tidak Juga Secangkir Kopi di Atas Meja

Kelompok Bani Micin
Militansi Bani Micin
Yang saya salut dari kelompok yang sering dinamakan “Bani Micin” itu adalah militansinya. Mereka seperti benteng yang kokoh melindungi simbol-simbolya. Mereka tidak perduli, seberapa besar kesalahan simbol mereka, tetap mereka benarkan. Bahkan mereka mencari-cari alasan untuk pembenaran.

Sebagai contoh, ketika simbol mereka sang Imam besar terkena kasus chat sex...

Bukannya pecah, benteng mereka semakin rapat melindungi simbolnya. Merekapun mencari pembenaran dengan bahasa “kriminalisasi”. Dan seperti komando, pembenaran ini menjadi sandi yang mereka gunakan di dalam kelompok mereka.

Contoh lain lagi, ketika simbol mereka minum kencing onta.

Merekapun gencar mencari hadis-hadis pembenaran, meski kadang sulit masuk di akal. Tapi itulah mereka, dengan kesederhanaan dan keluguan pola pikir mereka, nyatanya mereka bisa satu komando tanpa sibuk berdebat masalah kebenarannya..

Beda dengan mereka yang sering membanggakan dirinya sebagai “kaum waras”..

Kaum waras ini begitu rentan. Dengan posisi mereka sebagai kelas menengah-menengah mapan, mereka mudah sekali diserang keyakinannya.

Kaum yang menyebut dirinya waras ini, jika membangun figur selalu dalam posisi “harus sempurna” sesuai persepsi mereka sendiri. Sehingga ketika muncul ketidak-sempurnaan, mereka malah berantem sendiri.

Contoh dulu ketika Jokowi terlihat seperti orang ragu dalam mengambil keputusan, merekapun seperti jamaah yang kecewa. Padahal apa yang Jokowi lakukan adalah menghindari cara bentrokan langsung dengan mereka yang memusuhinya secara diam-diam.

Begitu juga ketika mereka yang dulunya pendukung Dedi Mulyadi tiba-tiba menyerang saya karena kecewa. Padahal apa yang dilakukan kang Dedi adalah sebuah strategi untuk memenangkan pertarungan yang lebih besar yang tidak semua orang mengerti maksudnya.

Sayapun pernah mendapat peristiwa yang sama, ketika kelompok bani micin menyerang dengan kekuatan penuh membangun propaganda bahwa saya lemah. Saya malah mendapat serangan yang sama dari mereka-mereka yang sevisi dengan saya.

Dan situasi yang sama terjadi pada Ahok..

Ketika akhirnya terkuaklah berita bahwa ia akan bercerai, bahkan ada banyak orang yang dulu menjadi pembelanya sekarang mencacinya, dengan dalih agama. Seakan-akan orang yang menjadi figur itu harus sangat sempurna, tidak boleh sedikitpun ada cacatnya.

Disinilah letak kelemahan mereka yang mengaku sebagai pembela kebhinekaan. Mungkin karena “berbeda-beda” sehingga tanggapan pun suka berbeda-beda. Sedangkan si bani micin “tetap satu jua”.

Saya tidak kebayang ketika Jokowi tiba-tiba di masa pemilihan terbongkar sedikit aibnya. Entah apa yang terjadi padanya.

Militansi itu seperti ketika kita meminum secangkir kopi. Mau tubruk, mau cappucino, mau kopi kampung, secangkir kopi seharusnya tetaplah dihargai sebagai secangkir kopi.

Karena secangkir kopi bukan dilhat dari kekurangannya. Ia dilihat dari kenikmatannya.

Seruput dulu mumpung masih sore hari.