Jumat, 02 Februari 2018

"BAKSOS GAK USAH BAWA NAMA GEREJA LAH"

Yogyakarta
Sultan HB
Begitu kata Sri Sultan HB X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta menyikapi rencana bakti sosial yang mau diadakan Gereja Santo Paulus Bantul dan dibubarkan beberapa ormas yang mengatas-namakan Islam.

Tudingan Kristenisasi atas nama Baksos dilancarkan beberapa ormas garis keras di Yogya. Akhirnya kegiatan untuk menjual sembako murah itu dibatalkan karena berpotensi memicu konflik disana.

"Umat Kristen harus mulai pintar melihat situasi sekarang ini.." begitu yang selalu saya sampaikan di beberapa Gereja ketika diundang sebagai pembicara.

"Semua umat beragama harus berjuang supaya bisa meredam konflik yang berpotensi ditunggangi sebagian kelompok..

Itu sudah dilakukan oleh Banser NU dengan menghadang para pembicara berideologi khilafah di beberapa daerah.

Yah seperti biasa mereka memainkan propaganda bahwa Banser adalah pembubar pengajian. Propaganda ini memang mainan mereka untuk melakukan politik pecah belah.."

Saya selalu senang dan hampir tidak pernah menolak ketika diminta berbicara di depan umat beragama lain. Karena selain ingin menampilkan wajah Islam yang ramah, saya ingin merobek-robek dikotomi Mayoritas Minoritas yang selalu digaungkan atas nama agama untuk memecah belah kerukunan.

"Jika ingin melakukan kegiatan sosial, tidak perlu bawa nama Gereja, karena pasti tudingannya Kristenisasi. Lagian ini kan kegiatan sosial, bukan kegiatan partai yang harus selalu bawa bendera supaya dikenal.."

Kami biasanya tertawa bersama menandakan keakraban tanpa sekat karena kami sejatinya di mata hukum sama, sama-sama sebagai anak bangsa.

"Ajak perwakilan dari agama lain untuk bersama-sama melakukan kegiatan sosial. Ansor dan Banser misalnya. Dan tidak perlu bawa-bawa nama agama untuk membantu orang lain. Jangan dikira Tuhan lupa tidak mencatat ini bantuan siapa. Itu namanya meremehkan kuasaNya.. "

Saya tersenyum lebar ketika mengingat kebodohan banyak dari kita sendiri yang selalu mengulurkan bantuan dengan tangan kanan, tapi tangan kiri teriak-teriak mengingatkan bahwa ini bantuan siapa.

Banyak teman-teman beragama yang malah cenderung eksklusif. Mereka berkumpul hanya dengan sesamanya. Melakukan kegiatan apapun hanya dengan kelompoknya, tapi mengatas-namakan orang banyak.

"Lepaskan kebanggaan beragama ketika kita ingin melakukan sesuatu untuk orang banyak. Agama itu adalah hubungan kita pribadi dengan Tuhan. Dan outputnya adalah bagaimana kita bisa menjadi manusia yang berfungsi kepada manusia lain.."

Sejatinya kita tidak perlu menunjukkan kepada orang lain agama kita apa. Ahlak kitalah yang menunjukkan apa agama kita.

Jadi berlomba-lombalah dalam meninggikan ahlak, bukan berlomba dalam menonjolkan agama siapa yang paling benar.

Peristiwa di Yogya bisa kita ambil sebagai catatan. Dan saya mendukung pernyataan Sri Sultan, karena biar bagaimanapun dia kepala daerah yang harus menjaga wilayahnya dari potensi konflik yang membesar hanya karena masing-masing kelompok ingin menonjolkan nama kelompoknya..

Ah kopi pagi ini nikmag sekali. Saya sedanf bernostalgia ketika masih sering ngopi di warkop dengan kopi sachetan dan gorengan yang sama sekali tidak bergizi..

Seruputtt...