Selasa, 20 Februari 2018

PENAK ZAMANKU

Partai Komunis Indonesia
Demo

"Bang, kenapa sekarang banyak orang gila menyerang ulama ?"

Ini salah satu dari sekian banyak pertanyaan yang masuk ke saya. Pertanyaan yang sebenarnya sama di benak banyak orang, bahkan juga - saya yakin - ada di pihak Kepolisian.

Yang perlu ditegaskan, bahwa serangan terhadap ustad oleh "orang gila" hanya ada beberapa kejadian saja. Kebanyakan berita yang ada adalah kesalah-pahaman atau pelintiran berita.

Sebagai contoh, di Jakarta seorang ustad menegur anak jalanan dan dia dikeroyok, lalu keluarlah framing berita "orang gila menyerang ulama".

Daripada sibuk dengan teori konspirasi, saya lebih baik memikirkan dampak pemberitaannya..

Framing bahwa "orang gila" itu adalah PKI yang sedang menyerang ulama inilah yang sebenarnya berbahaya. Ada pihak yang sedang menata bangunan dalam pikiran banyak orang - terutama di daerah2 - bahwa "situasi tidak aman".

Bahayanya dari "perasaan tidak aman" ini adalah tindakan main hakim sendiri.

Tahun 1997 saat ada pembunuhan para ulama di Banyuwangi oleh 'ninja", yang terjadi rakyat akhirnya main hakim sendiri. Banyak korban yang tidak bersalah dihakimi sampai mati oleh rakyat yang takut dan marah, hanya karena mereka kebetulan mampir di lingkungan dan dianggap mencurigakan.

Dan peristiwa 1997 di Jawa Timur itu, mengawali kerusuhan besar di tahun 1998..

Kalau bicara pola dari apa yang pernah terjadi sebelumnya, bisa dibilang apa yang terjadi dengan orang gila vs ulama ini sebenarnya adalah pembukaan..

Ada pihak yang sedang menata keributan besar di depan terutama berkaitan dengan momen pilkada yang akan merembet ke pilpres 2019..

Kemungkinan besar, sesudah perasaan takut dan was2 meliputi perasaan banyak orang, akan ada insiden2 kecil di desa2. Insiden2 kecil ini akan menambah ketakutan dan diharapkan menimbulkan riak yang lebih besar..

Kenapa framingnya adalah PKI vs Ulama ?

Karena kita pernah punya akar konflik yang dalam terhadap kejadian itu. Dan sesudah tahun kemaren isu bangkitnya PKI teredam dengan elegan, ada yang masih memainkan isu dengan lebih kasar. Dan ini tentu berasal dari tangan2 orang yang memahami permainan intelijen..

Isu PKI ini sebaiknya jangan dilawan. Karena ketika dilawan, ia malah menemukan peluang untuk makin membesar..

Ikuti saja alur pemikiran pembuat isu, bahwa PKI itu benar2 ada. Dengan alasan itu aktifkan kembali ronda2 dipimpin oleh aparat setempat.

Positifnya, ronda2 ini akan mempererat silaturahmi antar warga sehingga mereka menjadi semakin dekat dan mengenal. Kita tidak hanya menjaga wilayah kita dari PKI, tapi juga dari gangguan keamanan lainnya seperti pencurian.

Di luar ronda itu, pihak Cyber Crime lebih aktif melumpuhkan akun2 yang biasanya menyebar hoax adanya PKI. Silent operation saja, tidak perlu diumumkan. Tumbangkan mereka tanpa perlu pemberitahuan..

Jika bisa, persis seperti waktu Jokowi ikut nonton film G30 SPKI, ia juga bersama pejabat negara ikut ronda dalam kegembiraan. Hilangkan ketakutan dengan bikin perlombaan ronda sehingga acara menjaga keamanan menjadi tidak tegang dan malah menjadi pesta yang meriah.

Kita harus pintar berselancar dengan isu2 tersebut dan memanfaatkannya menjadi keuntungan. Kalau didiamkan saja, maka yang berbahaya adalah terbentuknya persepsi di masyarakata bahwa negeri ini sedang dalam kondisi tidak aman.

Sudah saatnya memainkan konsep SILATURAHMI sebagai senjata utama melawan potensi perpecahan. Silaturahmi adalah mata rantai yang hilang di negeri ini sesudah kita terpecah menjadi dua kekuatan besar..

Jika kita berhasil, maka isu PKI tidak akan meluas dan rasa aman akan kembali hadir di tengah masyarakat.

Inilah ilmu taichi, salah satu gerak menyeimbangkan diri dengan alam. Alam jangan dilawan, bergeraklah seiring ritmenya sambil tetap pegang kendalinya..

"Jadi siapa bang kira2 yang memainkan isu PKI ini ?"

Saya tersenyum sambil menyeruput secangkir kopi. "Ya mereka yang memainkan framing lebih penak zamanku disaat rasa aman itu begitu besar. Dengan senjata rasa aman itu, mereka menggarong harta rakyat diam2 dan besar2an.."

Seruput...