Rabu, 21 Maret 2018

INDONESIA BUBAR TAHUN 2030, KATANYA

Politik
Prabowo Subianto

"Indonesia bubar tahun 2030!!".

Begitulah statemen Prabowo -dengan berapi-api dan tangan sibuk bergerak kesana kemari- yang tersebar di youtube entah dalam acara apa, kapan dan dimana. Dan lucunya, Ketua DPP Gerindra ARP sesudah di konfirmasi pun mengatakan tidak tahu kapan video itu dibuat.

Tapi lepas dari itu semua, disinilah saya bisa menilai jelas perbedaan karakter Prabowo & Jokowi dalam memimpin.

Prabowo cenderung memainkan atmosfir ketakutan pada masyarakat supaya ia mendapat legitimasi sebagai penyelamat. Ia membangun persepsi bahwa "ada masalah besar di depan dan sayalah yang akan menyelesaikan". Jadi harus pilih dia nanti supaya kita semua aman.

Saya jadi ingat masa Soeharto yang selalu memainkan ketakutan akan PKI dan hanya militer atau TNI AD sajalah yang bisa menjaga negeri ini. Bangunan ketakutan akan bangkitnya PKI terus dipompakan selama 32 tahun ia berkuasa, supaya rakyat tetap ingat bahwa "dialah pahlawannya".

Dan ini mau diteruskan oleh mantan Panglima sebelumnya, yang berkeliling kemana-mana sambil menyebarkan bayangan munculnya hantu PKI yang sebenarnya sudah lama mati.

"Fear is the mind killer", kata Frank Herbert, yang mengartikan bahwa ketakutan adalah senjata pembunuh pikiran. Orang kalau sudah takut cenderung emosional dan sulit berfikir rasional. Inilah yang sedang dimainkan di negeri ini.

Beda dengan Jokowi..

Jokowi adalah orang optimis yang membangun harapan pada masyarakatnya bahwa negeri ini satu waktu akan besar dan berjaya kembali. Tidak pernah ia sedikitpun ragu apalagi takut bahwa Indonesia akan bubar, bangkrut ataupun pecah. Ia malah berkata, "Indonesia akan berjaya. Tegakkan kepala !!"

Dan ia tidak hanya ngomong, tapi bertindak dengan membangun infrastruktur dimana-mana..

Prabowo mirip seorang seorang ibu yang selalu menakut-nakuti anaknya, "Ayo masuk, entar kamu diculik wewe gombel loh.." Dan ia selalu berhasil dengan cara itu meski tidak paham bahwa hasilnya si anak menjadi penakut ketika dewasa..

Sedangkan Jokowi selalu memeluk anaknya dengan cinta sambil membisikkan, "Kamu akan menjadi orang besar nanti. Aku percaya itu.." Dan si anak pun menjadi orang yang percaya diri karena dia dibangun oleh harapan-harapan bahwa ia adalah orang yang berguna.

Jika Prabowo menawarkan suasana gelap di depan, Jokowi membawa lilin sebagai penerang.

Disanalah beda karakternya mereka. Bagai bumi dan langit..

Jadi terserah anda, mau ditakut-takuti seumur hidup atau mau diyakinkan bahwa bangsa ini besar jika kita berfikir besar..

Kalau saya sih, lebih baik biar pak Jokowi tuntaskan saja dulu kepemimpinannya sampai tahun 2024, dan pak Prabowo mungkin bisa nyapres lagi di tahun 2030 supaya Indonesia tidak bubar..

Setuju? Seruputtt...