Kamis, 22 Maret 2018

SANG MICIN ASIA

Medsos
Politik Medsos

Ketika saya menulis "Cak Imin, everywhere.." saya dimarahi banyak pendukungnya..

Padahal apa yang saya sampaikan adalah, sudah tidak musim lagi main baliho untuk menaikkan nama. Selain mahal, juga akan sia-sia karena model kampanye jaman now sudah banyak berubah.. Mendingan duitnya untuk biayain aplikasi Baboo aja.. (eh)

Begitu juga ketika Prabowo memainkan ilusi ketakutan, Indonesia akan bubar di 2030. Alih-alih mendapat simpati, ia malah di bully. Jaman sekarang, model pahlawan kesiangan sudah gak laku. Superman ma Batman aja celana dalamnya dah disembunyikan, gak lagi nongol di luar.

Sama dengan mantan Panglima yang kemaren asik maen-maen isu bangkitnya PKI, supaya dia nanti jadi pahlawan penyelamat negeri ini. Itu strategi usang yang dimainkan masa orde baru untuk mempertahankan kekuasaan. Dah basi..

Seharusnya para politisi merubah taktik dan strateginya dalam menunjukkan dirinya. Ia tidak bisa lagi bergantung pada iklan yang instan, tapi harus memainkan "jalan cerita" atau story telling yang panjang.

Ketika lawan politiknya memainkan program-program, ia harus menandingi dengan program juga yang membuat orang tertarik dan terkesima, sehingga orang banyak memilih dia karena isi otaknya, karena konsistensinya, karena integritasnya, bukan karena tampang dan jabatan..

Lihat Jokowi..

Selama 3 tahun ketika dia menjabat, apa ada baliho besar-besar dimana-mana yang menonjolkan wajahnya? Apa ada iklan televisi setiap jam yang memperlihatkan senyumnya?

Tidak. Wajahnya terpampang dimana-mana, di berita televisi, media nasional cetak sampai online, media sosial, karena ia punya program-program yang membuat orang kagum. Jokowi tidak memainkan iklan sebagai acuannya, ia memainkan Public Relation dan Marketing Communication yang elegan. Sangat efektif dan efisien gerakannya..

Ia tidak perlu mencari sensasi seperti model Syahrini untuk menaikkan pamornya. Ia kesayangan media karena selalu ada berita tentang kemajuan dan kreatifitas program ketika wartawan mewawancarainya. Ia mengundang para pegiat media sosial dan bahkan punya media sosial sendiri untuk membicarakan "apa yang dia lakukan", bukan hanya "siapa dia".

Itulah celah yang tidak bisa dilihat lawan politik Jokowi - maupun juga yang ingin menjadi pendampingnya. Mereka masih terpaku dengan gaya lama yang membosankan, memainkan isu dan popularitas untuk mencari nama.

Lha wong ojek aja sudah online, kok ya politisi mainnya masih model manual? Ya kelibas habis, jall..

Mulailah berbenah, kalau tidak anda akan tampak seperti dinosaurus bertopeng macan. Dunia sekarang sudah jauh berbeda. Menarilah diatasnya atau hilang terhapus jaman..

Maksud hati mau jadi macan asia, tapi malah jadi micin asia...

Seruput dulu ahhhh... Jangan baperan.