Sabtu, 07 April 2018

JOKOWI RAJA HUTANG?

Hutang
Jokowi

"Saya waktu dilantik, utangnya sudah Rp 2.700 triliun. Saya ngomong apa adanya. Bunganya setiap tahun Rp 250 triliun. Kalau 4 tahun sudah tambah 1.000 triliun.."

Begitu kata Jokowi waktu menghadiri Konvensi Nasional Galang Kemajuan. Dari pernyataan Jokowi itu, kita bisa menghitung bahwa total hutang plus bunga 4 tahun sudah 3.700 triliun.

Nah, darimana Jokowi bayar hutang dengan bunga setahun 250 triliun itu? Sedangkan ekonomi kita lemah, sektor pendapatan tidak bertambah karena ekonomi hanya terpusat di Jawa.

Bukan hutang saja, Jokowi juga mewarisi rendahnya serapan tenaga kerja, korupsi yang merajalela, mental subsidi sebagian besar masyarakat instan yang sudah terbiasa dengan Bantuan Langsung Tunai, yang duitnya ya dari hutang juga.

Lebih pusing lagi karena pendapatan negara tahun 2014 hanya sejumlah 1.600 triliun pertahun. Sedangkan belanja negara sudah mencapai 1.800 triliun. Berarti, setahun kita minus 200 triliun. Pucing, kan?

Untungnya Jokowi berlatar belakang pengusaha, maka ia bertindak sebagai pengusaha. Seorang pengusaha ketika terjebak pada situasi berat itu, tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali menambah pendapatan.

Nah, bagaimana caranya menambah pendapatan jika negara minus 200 triliun per tahun?

Yang pertama, datangi bank-bank yang menghutangi. Ditanya, "Kalian masih percaya kami nggak? Aset kami masih besar. Harus dioptimalkan. Kalau aset ini bisa menghasilkan, kami bisa bayar hutang.."

Bank bukan tempat penyimpanan aset. Kalau menyita aset mereka sebenarnya rugi juga, karena mereka banker bukan pengusaha. Akhirnya mereka bertanya, "Apa rencana kalian ?"

Lalu dibeberkanlah peta rencana jangka panjang pembangunan infrastruktur. Dengan adanya infrastruktur, maka geliat ekonomi di daerah2 meningkat karena tranportasi dan distribusi jadi lancar.

"Hutangi lagi kami untuk bangun infrastruktur, supaya kami nanti bisa melunasi hutang kepada kalian.." kata pemerintah.

Koalisi Bank berunding sejenak dan setuju, karena buat mereka lebih baik menambahkan hutang supaya bisa bekerja, daripada men-stop hutang yang berdampak gagal bayar.

Begitulah sejarah kenapa hutang kita sekarang bertambah, bukannya menyusut. Karena begitu besar beban warisan yang ditinggalkan dan begitu kecil peran ekonomi untuk membayar hutang..

Tentu saja ini hanya bisa dipahami oleh mereka yang pengusaha. Bukan kampret yang kerjaannya makan, tidur dengan kepala di bawah dan mencari makan dari demo-demo tak berguna...

Seruput kopinya ?