Minggu, 29 April 2018

KONTROVERSI RINI SOEMARNO

Menteri BUMN
Rini Soemarno dan Luhut

Berita tentang Rini Soemarno (dulu Rini Suwandi) sejak dulu simpang siur. Rini diserang dari berbagai arah, baik dari luar maupun dari dalam koalisi sendiri. Bahkan banyak cerita tentang peran kakaknya, Ari Soemarno, dalam semua yang berhubungan dengan bisnis Pertamina.

Rini Soemarno bisa dibilang menteri yang lumayan misterius. Ia tidak banyak muncul di media massa. Untuk urusan media, Rini pelit komentar. Ia tidak banyak menonjolkan diri dan sering bekerja dibelakang layar.

Rini Soemarno dulu dikabarkan sangat dekat dengan Megawati. Bahkan di era Mega, Rini menjabat Menteri Perdagangan dan Perindustrian. Tapi banyak kabar yang mengatakan, bahwa hubungannya dengan Mega renggang saat Jokowi terpilih menjadi Presiden.

Memang mengherankan, kenapa Rini Soemarno sangat tidak disukai oleh pihak oposisi dan juga koalisi tetapi tetap dipertahankan Jokowi sebagai Menteri ?

Kemungkinan besar ini berkaitan dengan tugas Rini di BUMN yang tidak sesuai kepentingan partai koalisi.

BUMN dulu sering disebut sebagai sapi perah partai. Rini melanjutkan kebijakan Dahlan Iskan menjadikan BUMN sebagai lembaga profesional. Rini Soemarno sendiri bukan orang partai, ia seorang profesional dengan latar belakang yang mumpuni.

Bahkan ada selentingan, partai koalisi dulu mengajukan Rizal Ramli menjadi Menteri supaya bisa menjatuhkan Rini.

Rizal Ramli dulu paling sering "mengkepret" Rini saat ia menjabat Menteri. Ia pernah menulis di twitter, "Inilah Menteri BUMN yang saenaknya dewe, miskin prestasi dan banyak conflict-of-interest.."

Sayangnya, gak ada setahun malah ia yang terkepret. Jokowi memberhentikannya karena ia bukannya kerja bener, malah sibuk ngepret sana ngepret sini. Julukannya harusnya ganti menjadi "Rajawali yang terkepret".

Prestasi Rini Soemarno paling mencolok adalah saat ia kembali membenahi Astra. Astra pada tahun 1988, mengalami kerugian sampai hampir 2ribu triliun rupiah.

Rini langsung mengambil kebijakan memotong gaji Direksi sampai mengajak karyawan Astra untuk menjadi pemegang saham. Dan kebijakan2 Rini menyelamatkan Astra - yang sejatinya sudah bangkrut - sehingga tahun 1999 Astra bisa untung 800 miliar rupiah.

Jika melihat rekam jejak Rini di Astra, ia tentu melakukan hal yang sama di kementriannya..

Dan benar saja, selama 3 tahun ia memimpin, keuntungan BUMN naik 30 persen. Bahkan aset BUMN naik 60 persen yang dari tahun 2014 sebesar 4.500 triliun, ditahun 2017 menjadi lebih dari 7 ribu triliun.

Inilah kenapa Jokowi tetap mempertahankannya. Selain karena masih banyak tugas yang diemban Rini Soemarno, Rini juga mampu memenuhi harapan Jokowi untuk bekerja secara profesional, bukan karena kehendak partai.

Dan sekarang muncul lagi isu rekaman suara Rini dengan Dirut PLN. Dan kembali Rini diserang oposisi - sebagai ruang untuk menyerang Jokowi - dan juga diserang koalisi - untuk mengincar kursi Rini.

Meski begitu saya yakin Rini Soemarno tetap akan ditempatnya, karena ini bukan isu pertama yang ia dapat sejak ia menjabat.

Mungkin Rini Soemarno ingin mengatakan, "menjadi Menteri BUMN itu berat. Kamu gak akan kuat. Biar saya saja.."

Seruput..