Jumat, 27 April 2018

Merangkul Kaum Radikal Adalah Kesalahan Jokowi Terbesar

Denny Siregar
Moeldoko dan Denny Siregar

Saya juga heran, ada apa pak Moeldoko mengeluarkan pernyataan "kemungkinan kasus RS bisa dihentikan" itu?

Test the water kah? Atau ingin merangkul mereka kah? Atau jangan-jangan ada gerakan lain yang tidak terbaca?

Apapun itu, pernyataan "kemungkinan dicabutnya status RS", menimbulkan dua efek bersamaan. Pertama, runtuhnya mental barisan pendukung Jokowi. Dan kedua, naiknya semangat bertempur ormas pendukung oposisi.

Sejak RS kabur ke Saudi, sebenarnya itu pertanda kemenangan pemerintah dalam melawan kelompok Islam garis keras yang tergabung dalam koalisi bernama 212.

Dengan tidak adanya RS, mereka kehilangan simbol pemersatu ikatan. Kelompok ini sudah mencoba menaikkan beberapa ustad sebagai pengganti RS, tapi tetap tidak menemukan seseorang yang punya kharisma yang sama. Itulah kenapa RS tetap dipelihara.

Seharusnya ini dibaca oleh pemerintah sebagai kemenangan dalam menangani situasi yang sempat goyang di tahun 2016.

Langkah-langkah aparat kepolisian sudah sangat bagus dengan menangkapi gembong Saracen dan MCA. Tinggal nyutik saja sebenarnya. Tapi menjadi antiklimaks ketika membaca bahwa ada kemungkinan status RS dicabut dari tersangka.

Pada situasi "kemenangan" ini, pemerintah harusnya berdiri dengan gagah. Memegang kontrol bahwa negara ada dan hadir jika ada ganggguan mengatas-namakan agama. Ini akan meningkatkan kepercayaan banyak masyarakat luas..

Lha, ini kok malah kayak krupuk basah, melempem dan seperti memberi angin segar kepada ormas yang jelas-jelas menyakiti hati banyak rakyat Indonesia.

Apakah ketika dirangkul, mereka akan pilih Jokowi? Sangat tidak. Mereka sudah punya pilihan sendiri. Dan itu sudah pasti bukan Jokowi. Kalau memang sulit dirangkul, lha terus ngapain juga harus dirangkul-rangkul?

Yang pasti statemen pak Moeldoko itu menjadi preseden berat bagi Jokowi. Rakyat akan melihat bahwa Jokowi lemah dan kedua, rakyat melihat bahwa "oh ternyata proses hukumnya yang ngatur rejim ini yaaa"

Pak Moeldoko seharusnya bisa mengklarifikasi pernyataan itu.

Ganti dengan narasi yang lebih kuat dan gagah bahwa, "Pemerintah tidak akan tunduk pada tekanan apapun dan tidak akan mengintervensi hukum.." Ini baru statement gagah, membakar jiwa untuk terus mengawal pemerintahan lima tahun ke depan. Bukannya membuat kebingungan dan memecah barisan relawan.

Jangan takut, pak Moeldoko. Kelompok "bergamis malu, gak bergamis rindu.." ini cuman tereakannya aja yang besar. Kelompoknya mah kecil.

Jangan sampai merangkul kelompok yang "mati segan, hiduppun sungkan" ini tapi mengorbankan potensi besar kalangan NU yang sejak awal berhadap-hadapan dengan mereka.

Apa tidak terlihat perjuangan Banser dan Ansor dalam menghadang gerakan mereka di kota-kota diluar Jakarta tahun lalu? Mereka berani menghadapi kelompok "taplak meja warna putih" ini, secara fisik waktu membubarkan acara ceramah yang berpotensi dibelokkan ke arah membangun negara Islam..

Lha, sekarang pentolannya kok mau dibebaskan.. "Cemana pulak? Sakit hati awak rasanya!"

Semoga apa yang diresahkan dengan keluarnya SP3 RS tidak terjadi...

Tapi jikapun akhirnya pemerintah mengalah kepada mereka, maka saya siap mundur dari membela Jokowi dan tidak menggunakan hak pilih saya dalam pilpres nanti.

Setuju? Seruput kopinya dulu!