Senin, 11 Juni 2018

APA KABAR REVOLUSI MENTAL?


AHY
Revolusi Mental
"Apa kabar Revolusi Mental ?"

Terdengar suara dari kejauhan. Keras dan tegas rasanya. Mempertanyakan jargon yang selama ini didengungkan, bahwa mental bangsa ini perlu direvolusi supaya satu waktu bisa bangkit negeri.

Tapi si penanya tidak berkaca. Bahwa ia selama ini hidup dibawah ketiak bapaknya. Yang memang kaya dan berpangkat dari sananya. Yang tidak pernah hidup susah bahkan sejak ia lahir di dunia. Yang tidak pernah tahu, bagaimana rasanya merangkak dari bawah. Dan tidak pernah merasakan bagaimana bangkit tanpa ada yang mendukungnya..

"Apa kabar Revolusi Mental ??"

Teriak si penanya semakin keras membahana. Dengan baju dari merk ternama. Dan sepatu juga celana yang pasti mahal harganya. Ia bicara tentang kemiskinan dari balik jendela mobil seharga lebih dari 1 miliarnya. Dengan istri yang cantik rupawan dan kulit mulus terawat di klinik kecantikan. Yang setiap sekian bulan minta liburan, kalau tidak ke Italia ya Perancis juga tidak apa apalah.

"Apa kabar Revolusi Mental ???"

Para hadirin bersorak dan bertepuk tangan, ketika mendengarkan pidato yang panjang tapi tak berguna. Sambil terus berbicara dengan teman disampingnya, "Bagaimana kabar proyek kita?". Sang teman mengibaskan kedua tangannya ke depan, "Katakan tidak ! Kalau gua gak dapat bagian.."

Mereka paham bagaimana bermain anggaran. Proyekkan dulu, mangkrakkan kemudian. Yang penting pencitraan. Toh kalau ada apa-apa Ibu boss akan tampil di depan. Yang penting, setoran keatas lancar.

Sedangkan bapak Boss biarkan saja sibuk mencipta lagu. Nanti kalau ada yang mengganggu, paling twitternya akan mencuit dahulu. "Tentu saya bisa jelaskan. Tapi tidak enak dan tidak baik di mata rakyat.."

10 tahun menjabat rasanya belum cukup. Kalau bisa anak, istri, saudara sampai menantu, harus bisa merasakan bagaimana hidup..

"Apa kabar Revolusi Mental?"

Suara itu terdengar melemah. Bahkan tidak terdengar oleh seorang anak yang sedang sibuk mengembangkan usaha. Usaha yang dibangun diatas kaki sendiri, jauh dari fasilitas seorang bapak yang kebetulan menjadi pemimpin negeri. Seorang anak yang bangga dengan hasil keringatnya sendiri. Bukan keringat yang berasal dari ketiak ayahnya yang mengajarkannya mandiri..

"Apa kabar Revolusi Mental?"

Mulai terdengar gagap suara itu. Ketika ia mulai menyadari, ternyata mentalku sendiri yang belum direvolusi. Lalu untuk apa aku bertanya begini ? Bukannya sibuk memperbaiki diri. Dari kesalahan orang tua yang sudah diberi kesempatan memimpin bangsa ini, tapi tidak mampu mengangkat harkat dan martabat orang Papua yang baru merdeka dari kegelapan, karena listrik di daerah mereka baru dinyalakan dan jalan di tempat mereka baru dibangun sampai ke pedesaan..

Ah, memang lidah tak bertulang. Ngomong itu pekerjaan paling gampang. Yang sulit adalah ketika sedang mendapat peluang, tetapi tidak dikerjakan karena sibuk memperkaya diri dan kroni..

Mau seruput kopi, tapi ternyata masih pagi..