Jumat, 22 Juni 2018

GENDERANG PERANG PILKADA SUMUT

Pilkada Serentak
Djarot

"Sumatera Utara itu rajanya korupsi!"

Begitu kata seorang teman yang tinggal di Medan. Dia patut gemas, karena menurut catatan ada 9 kepala daerah yang kena kasus korupsi. Ada mantan Walikota Medan dan wakilnya, ada mantan Bupati Nias bahkan yang parah Gubernurnya pulak..

Korupsi Gubernur Sumut yang terlacak dimulai pada masa Syamsul Arifin. Syamsul Arifin menang di Pilkada Sumut tahun 2008 berpasangan dengan Gatot Pujo dari PKS. Ia ditangkap KPK karena korupsi APBD pada waktu menjadi Bupati Langkat. Ternyata posisi Gubernur tidak melindunginya dari sel tahanan..

Penggantinya si Gatot dengan senyum kesucian berjanji akan mengevaluasi semua kebijakan. Eh, ternyata dia lebih garang. Ia menjadi "Imam" dari korupsi atas dana Bansos dan BOS ( bayangkan, korupsi di dana sosial dan pendidikan ).

Gatot tidak sendiri. Sebagai Imam, ia tentu punya jemaat dibelakangnya. Dan 38 anggota DPRD di Sumut pun berjamaah dijerat KPK. Dahsyatnya wakil PKS ini ketika dia berkuasa, jika dia mencuri di kereta api, dia curi segerbong-gerbongnya..

Kasus korupsi itu terus berbuntut panjang. Gubernur Sumut sekarang pengganti Gatot, Tengku Erry, pun sedang dalam pemeriksaan. Dan ada lagi kabar, Calon Wakil Gubernur dari satu paslon, Ijeck Shah, ikut juga diperiksa.

Sulit berbicara "Sumut bersih" jika masih ada benang merahnya dari korupsi. Sumut harus benar-benar mencari pengganti yang benar-benar bersih.

Karena itu, masuknya Djarot Syaiful Hidayat ke Sumut seharusnya menjadi harapan baru bahwa Sumatera Utara ke depannya akan lebih wangi. Djarot rekam jejaknya bersih ketika menjadi Bupati Blitar dan Wagub DKI.

Sudah saatnya masyarakat Sumut berperang dengan koruptor. Caranya adalah dengan memilih pemimpin yang benar juga. Jangan lagi tertipu dengan iklan baju putih dan tangan sedekap di dada, seolah dia manusia suci. Sesudah menjabat, eh ternyata bajingan menyaru malaikat..

Sumatera Utara harus direbut kembali, karena posisinya strategis untuk para pendukung Jokowi.

Tahun 2014, Jokowi pernah menang di provinsi ini. Dan mereka yang dulu memilih Jokowi, harus lebih militan karena memenangkan Sumut, berarti mengantarkan Jokowi untuk 1 periode lagi..

Survey terbaru dari Indobarometer, Djarot memimpin dengan lebih dari 37 persen suara dan lawannya Edy Rahmayadi, lebih dari 36 persen suara. Tipis sekali..

Karena itu jangan golput. Segeralah pulang jika KTP anda masih di Sumut. Segeralah mendaftar jangan sampai ada yang merebut hak suaramu. Berangkat pagi-pagi dan penuhi TPS tanggal 27 Juni. Kawal terus penghitungan suara jangan sampai lelah.

"Ini perang.." Kata temanku di Medan sana. Perang melawan koruptor dan untuk mengawal Jokowi ke depan. "Kita harus menang. Jangan biarkan PKS kembali memerintah.." Katanya.

Sumut, daerah kelahiranku, salam secangkir kopi. Mainkan genderangmu sampai ke seluruh negeri.

Bahwa Sumatera Utara tidak akan menyerah selangkahpun memerangi korupsi. "Ini waktu yang tepat untuk berbenah atau kita akan menderita 5 tahun lagi.."

Belum pernah mencoblos kumis pak Djarot? Kami di Jakarta pernah. Cobalah, tusuk aja. Niscaya nikmat tiada tara...

#janganadaPKSdiantarakita