Selasa, 12 Juni 2018

GUS YAHYA DI ISRAEL

PBNU
Gus Yahya Staquf

Banyak yang menanyakan kepada saya..

"Kenapa Jokowi membiarkan Gus Yahya datang ke Israel? Itukan mencoreng wajah Jokowi yang mendukung perjuangan Palestina.."

Gus Yahya atau lengkapnya Yahya Cholil Staquf, tokoh agama dari PBNU sekaligus anggota Watimpres, memang datang ke acara American Jewish Committee atau AJC Global Forum yang diadakan di Israel minggu kemaren.

Kehadirannya disana jadi pembicaraan banyak orang. Bahkan Fadli Zon - seperti biasa - memanfaatkan situasi itu untuk nyinyir. Menurut Fadli Zon, kehadiran Gus Yahya disana memalukan bangsa Indonesia karena tidak sensitif terhadap bangsa Palestina..

Perjuangan, bagi sebagian orang, bisa berarti kekerasan. Harus ada pertarungan fisik, minimal kutukan, baru itu dinamakan perjuangan.

Saya jadi teringat seorang teman yang "mengkritik" saya karena terlalu sering memenuhi undangan untuk jadi pembicara di Gereja-gereja. "Mau ngapain lu sering2 bicara di Gereja ? Mau pindah Kristen ?"

Saya senyum saja. Ah, si teman salah paham. Saya sering berbicara di Gereja bukan untuk pindah agama atau malah menyuruh orang lain pindah agama.

Saya justru sedang berjuang menghadirkan sosok Islam yang jauh berbeda dari apa yang selama ini dipahami orang Kristen melalui berita di media bahwa Islam itu keras, rasis, bodoh dan barbar.

Saya menampilkan sosok Islam yang ramah, supaya saudaraku yang beragama Kristen tidak melihat Islam dari wajah FPI, HTI dan ormas-ormas sejenis itu saja. Lebih banyak sosok Islam seperti saya daripada mereka. Dengan begitu, tidak ada salah paham diantara kita hanya karena perbuatan sebagian kecil gerombolan itu saja..

Begitu juga yang dilakukan Gus Yahya...

Dalam pembicaraannya di Israel sana, Gus Yahya justru berbicara tentang makna perjuangan sebenarnya, yang di Islam disebut sebagai "Rahmah", yang berarti kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.

Ini sejatinya menegur secara halus Israel, yang dalam usahanya merebut tanah Palestina penuh dengan aksi kekerasan dan banyaknya korban. Gus Yahya mengajak seluruh dunia - khususnya Israel - untuk memilih Rahmah sebagai jalan dalam menuntaskan sebuah masalah..

Apa yang dilakukan Gus Yahya di Israel, itulah yang dinamakan dakwah.

Dakwah itu bukan hanya di dalam komunitas saja cerita tentang surga dan neraka. Tapi yang paling penting, adalah mengajak semua orang - bahkan mereka yang tidak sekeyakinan dengan kita - untuk sama2 memahami inti dari ajaran masing2 yang sejatinya sama, meski redaksionalnya berbeda..

Jangan karena kita mengutuk tindakan Israel, berarti kita harus membenci orang-orangnya. Karena ada perbedaan besar antara Judaism dan Zionism. Judaism adalah agama Yahudi dan Zionism adalah tindakan politik dengan mengatas-namakan agama Yahudi.

Perbedaan yang sama besar antara Islam dan ideologi Wahabi..

Apa yang dilakukan Gus Yahya itulah yang sebenarnya dilakukan Rasulullah Saw ketika berdialog dengan orang2 Yahudi dan Nasrani pada masanya. Pendekatan humanisme, saling pengertian dan saling mengenal di balik perbedaan. Kalaupun ada catatan sejarah Nabi Muhammad Saw berperang dengan mereka, itu bukan karena Nabi menyerang, tetapi bertahan dari serangan..

Jadi, saya mendukung dialog-dialog seperti yang dilakukan Gus Yahya. Biarlah orang Palestina yang berjuang dengan fisik mempertahankan wilayahnya. Perjuangan Indonesia adalah perjuangan dialog bukan ikut-ikutan perang bersama mereka..

Semoga secangkir kopi bisa menjadi pengingat, bahwa sesuatu yang terlihat hitam belum tentu buruk. Sangat mungkin ia lebih nikmat dari yang terlihat cerah berwarna..

Seruput kopinya?