Sabtu, 23 Juni 2018

KETIKA DUNIA SUDAH TIDAK PRIVASI LAGI

Media Sosial
Medsos

Pertama kali alat komunikasi teks dalam bentuk grup yang kita tahu adalah BlackBerry Messenger..

Dan grup itu banyak diisi oleh sobat-sobat kecil yang sudah lama gak kelihatan, pas ketemu lagi eh pantatnya dah pada lebar-lebar. Dan seperti biasa grup rame dengan nostalgia. "Kamu kan dulu yang kentut di depanku?". "Bukan, aku dulu cuman pup di celana, hanya baunya yang kemana-mana.."

Perkembangan teknologi Android makin maju dan lebih beragam, Blackberry pun ditinggalkan. Sudah tidak ada lagi, "berapa pinmu ?" Dan nada "PING!" yang biasanya sebagai nada pemanggil awal. Whatsapp mengambil alih semua itu..

Dengan WAG - Whatsapp Group - grup pun makin beragam. Sekarang udah macam-macam, bukan lagi teman sekolahan. Tapi teman dari antah berantah yang ketemu saat Indonesia sedang euphoria menghadapi tahun-tahun politik.

Dan mulailah, tanpa permisi, add meng-add di group menjadi kebiasaan. Tiba-tiba saja nomer hape saya kesebar karena awalnya gabung di satu group, dan muncul di group lain dengan nama aneh2. Orang-orangnya pun tidak saya kenal. Dan semakin banyak group, semakin nomer kesebar pulak..

Kenapa muncul group2 baru ?

Karena itu pecahan dari grup lama, yang awalnya sepaham, kemudian bentrok karena ada masalah. Dan grup baru itu pecah lagi, membentuk grup baru lagi. Begitu terus, sampai ada yang punya grup puluhan.. ( Ngapain juga punya grup sebanyak itu..)

Isinya masih sama aja. Politik lagi, politik lagi. Apalagi menjelang pilkada ini. Tiba-tiba saya ada di grup Sumut, muncul lagi di grup Jatim, ada grup Jabar, rame dahhh..

Yang terjadi adalah saling menghakimi. Ribut lagi. Dulu berantem sama kampret, sekarang sesama cebong. Akhirnya ada yang left, trus dia bikin grup baru, trus add lagi. Entah kerjaannya mungkin cuman bikin grup wa aja..

Walhasil, tulisan saya tentang Pilkada, dicopas di grup dan dikomentari. Dan pasti ada yang tidak setuju, lalu mulailah sindir menyindir, tiba-tiba left karena bersinggungan dengan anggota grup lain..

Pusing gua...

Manusia pada sensitif sekarang ini, beda pilihan dikit aja langsung merasa terancam kehidupannya. Gak cukup berantem di komen Facebook, lanjut Twitter, diteruskan ke WAG. Seperti supporter sepakbola, siapapun yang tidak setuju dengannya hajar saja..

Pemilu bahkan sudah tidak bebas, umum dan rahasia lagi. Pilihan yang tadinya adalah hak pribadi, sekarang jadi sesuatu yang harus mengikuti keinginan orang banyak. Kalau beda, "jangan coba-coba.."

Kadang saya rindu seperti dulu. Dimana pembicaraan politik hanya ada di warung kopi. Kadang ngutang, kadang lari. Tapi setidaknya, kalaupun ada yang tidak setuju, tidak mengapa, yang penting bayarin kopi..

Sesimple itu kondisi, dimana teknologi masih minim sekali. Disaat teknologi mempermudah semua situasi, ternyata manusianya yang semakin kompleks dan semakin lama semakin menyendiri meski di grupnya ada ratusan teman yang saling berantem sendiri..

Seruput kopi dulu ah.. Pasti banyak yang punya pengalaman sama..