Jumat, 01 Juni 2018

PARA PENIMBUN HARTA

Dermawan
Sedekah

"Kamu tahu siapa orang yang paling merugi di dunia ini?". Perbincangan kami berlanjut malam ini. Perbincangan spiritual memang menarik hatiku. Membangun ruang logika berfikir, membuka rahasia hidup juga mati, dan menemukan arti apa fungsi kita di dunia ini.

"Orang yang paling merugi adalah orang kaya yang kikir.."

Temanku menjawab pertanyaannya sendiri. Secangkir kopi menemani dinginnya malam karena bumi sedang dibasahi hujan.

"Banyak orang salah mengira bahwa kekayaan yang dia punya adalah bukti kesuksesannya di dunia. Padahal sejatinya kekayaan di dunia seperti bandul pemberat ketika seseorang itu tenggelam ke dalam air. Ia bukan menyelamatkan, tetapi justru menjadi penyebab seseorang itu tidak selamat di akhirat.

Kamu bayangkan, ketika nanti dihari Pengadilan, manusia ditimbang dan diukur dengan apa yang dia punya, maka pertanyaan terbesar adalah "Apa yang kamu lakukan dengan hartamu ketika di dunia ?"

Dan kamu bungkam, karena memang tidak ada yang kamu lakukan dengan apa yang kamu punya. Kamu sibuk menimbun harta, tapi semua itu tidak bermanfaat bagi yang lainnya.

Sawahmu berhektar, rukomu belasan, tabunganmu bermilyar, tapi semua itu tidak menjadi penambah amalmu. Padahal yang kamu bawa ke hari Pengadilan bukanlah harta dalam bentuk materi, tetapi harta dalam bentuk non materi, yaitu amal.

Amal itulah timbangan baikmu yang akan menyelamatkanmu. Sawah, ruko juga tabungan di dunia ini akan kamu tinggalkan dan tidak berguna. Seperti kamu membawa emas di padang tandus, dimana air sebenarnya adalah harta paling berharga.

Bahkan, kamu akan ditanya darimana dan bagaimana kamu mendapatkan harta di dunia itu.

Kamu bayangkan jika kamu ditanya KPK? Nah, ini yang bertanya Tuhan, yang pasti jauh lebih detail dan presisi.."

Merinding aku mendengarnya, membayangkan lidah ini bungkam. Tak mampu menjawab karena memang tak punya jawaban. Sibuk mengumpulkan harta di dunia, tapi lupa dengan kehidupan lain di alam kematian. Bahkan cara mengumpulkan harta penuh dengan keserakahan, mirip sifat binatang..

Kami terdiam. Secangkir kopi sudah tidak berfungsi lagi menjadi penyeimbang. Pahitnya menyadarkan bahwa banyak hal di depan yang tidak terbayangkan, tapi kami tidak pernah bersiap untuk menuju ke arah sebenar-benarnya tujuan..

"Aku heran dengan orang kaya yang kikir. Ia hidup seperti orang miskin di dunia, tetapi di akhirat dihitung sebagai orang kaya.." Imam Ali bin Abi Thalib.

Ah, jangan-jangan aku ini sebenarnya orang yang merugi. Yang menganggap bahwa dunia adalah akhir dari segalanya.