Sabtu, 07 Juli 2018

FREEPORT & KERAS KEPALANYA JOKOWI

Freeport
Jokowi

Kisah Freeport dulu adalah kisah suram Indonesia..

Kisah ini berawal sejak ditemukannya gunung tembaga di Papua oleh Jean Jacques Dozy pada tahun 1936. Penemuan Dozy ini terdengar oleh Forbes Wilson, geolog Freeport, tahun 1959. Ketika Wilson ingin membuktikan laporan Dozy, dia terpukau melihat apa yang dinamakannya harta karun.

Sejak itu, wajah Indonesia berubah.

Soekarno yang menentang penguasaan asing terhadap sumber daya alam Indonesia, dijatuhkan. Soeharto langsung mensahkan UU no 1 tahun 1967 sesudah itu.

"Freeport adalah perusahaan asing pertama yang menandatangani kontrak dengan rezim baru di Jakarta dan menjadi aktor ekonomi dan politik utama di Indonesia," tulis Denise Leith dalam Politics of Power: Freeport in Suharto's Indonesia (2003).

Sejak itu penguasaan tambang Freeport semakin meluas. Kontrak dibuat untuk mengamankan posisi Freeport sehingga sulit dimiliki pemerintah Indonesia. Inilah kejahatan terbesar yang dilakukan anak bangsa, yang merampok kekayaan negeri untuk kepentingan sendiri.

Karena perampokan itu, ibu pertiwi dijajah oleh anak-anaknya sendiri. Ia diperkosa habis-habisan tanpa mendapatkan hak yang sesuai. Papua tetap miskin dan akhirnya berontak supaya bisa merdeka.

Wajah itu berubah ketika Jokowi menjadi Presiden. Ruh Soekarno menitis kepadanya untuk mengembalikan hak bangsa. Dengan keras kepala ia berjanji akan mengembalikan Freeport ke pangkuan anak negeri.

Dan ia menempatkan panglima yang tepat untuk masalah itu. Ignasius Jonan, yang juga keras kepala, diberikan tugas berat untuk menyelesaikan semuanya.

Meski banyak yang mengingatkan bahayanya campur tangan pemerintah AS jika pemerintah memaksa mengambil alih Freeport, Jokowi tetap maju. Freeport sudah bukan lagi sekedar tambang yang menghasilkan. Ia simbol perjuangan kedaulatan.

Dan perjuangan itu mendekati keberhasilan. Freeport sudah menyetujui bahwa saham yang selama ini mayoritas mereka kuasai, akan diserahkan ke Indonesia. Indonesia akan menguasai 51 persen saham di Freeport.

Itu berarti negeri ini menguasai mayoritas saham dan berhak menentukan setiap keputusan yang ada. Freeport tidak bisa lagi sembunyi-sembunyi dalam setiap laporan.

Dan bukan hanya itu...

Jokowi juga ingin mengembalikan hak masyarakat Papua, dengan memberikan porsi saham kepemilikan sebesar 10 persen kepada mereka. Masyarakat Papua tidak lagi hanya menjadi penonton atas kekayaan alam mereka, tetapi sudah menjadi pemain utama.

Perjuangan panjang untuk mengembalikan tambang Freeport kembali ke pangkuan ibu pertiwi ini, sudah mendekati hasil akhir..

Dengan negosiasi yang sangat alot, dan rally lobi-lobi panjang, akhirnya PT Freeport bersedia membuka diri terhadap kepemilikan Indonesia.

Bukan hanya itu, mereka juga setuju mengubah kontrak kontrak karya yang selama ini menjadikan mereka istimewa dengan ijin pertambangan biasa. Dan PT Freeport akan membangun smelter selama 5 tahun ke depannya..

"Ini sejarah bagi bangsa Indonesia.." begitu kata Sri Mulyani, Menkeu, gembira melihat perkembangan yang terjadi. Tentu ini sejarah, karena rumit dan alotnya perjuangan negeri ini untuk mendapatkan haknya kembali..

Jika perjanjian sudah ditanda-tangani dan tambang Freeport resmi mayoritas sahamnya dimiliki pemerintah, kita wajib berterimakasih kepada para pejuang-pejuang ini. Karena tanpa mereka, entah kapan tambang itu akan menjadi milik kita..

Terimakasih pak Jonan. Terimakasih Archandra. Terimakasih bu Sri Mulyani. Dan terimakasih untuk semua pihak yang tidak terlihat, tapi hasilnya terasa bagi kami.

Dan secara khusus, terimakasih pak Jokowi. Hanya engkau sekarang ini yang bisa mengembalikan kebanggaan negeri ini. Sudilah kiranya memimpin kami satu periode lagi..

Dan saya yakin, di alam sana, Soekarno bapak pendiri negeri, tersenyum senang sambil mengangkat secangkir kopi tanda kebanggaan bahwa masih ada penerusnya yang benar-benar memikirkan bangsa..

Seruput kopinya..