Senin, 30 Juli 2018

RUNTUHNYA PARTAI GERINDRA


Kita kembali sejenak ke Pilpres 2014..

Politik
Prabowo
Pada waktu itu partai Golkar adalah pemenang dengan jumlah kursi terbanyak kedua sesudah PDIP. Jumlah kursinya 91 atau 14,75 persen.

Dengan posisi seperti itu, kader-kader Golkar sangat percaya diri. Mereka kemudian menggelar Rapimnas yang salah satu poin pentingnya adalah mencalonkan Aburizal Bakrie sebagai Calon Presiden. Mereka cukup mencari satu koalisi lagi, maka Golkar bisa membentuk poros tandingan diantara dominasi Prabowo-Hatta & Jokowi-JK.

Tapi ternyata kenyataannya berbeda..

Tiba-tiba Ical, panggilan akrab Aburizal Bakrie, melakukan manuver dengan merapat ke Prabowo-Hatta dan bersedia menjadi "Menteri Senior" mereka..

Manuver Ical ini tentu saja membuat marah kader Golkar yang tadinya punya kepercayaan diri sangat besar. Mental mereka runtuh seketika. Padahal, jika waktu itu Ical mau koalisi dengan Demokrat saja, maka Golkar punya potensi memenangkan pertarungan. Demokrat pada waktu itu adalah satu2nya partai yang belum mengambil keputusan bergabung di kubu mana...

Langsung saja terjadi konflik di tubuh Golkar. Dan Ical dengan kekuasaannya memecat beberapa petinggi Golkar, salah satunya Nusron Wahid yang waktu itu menjadi Bendahara DPP. Dan pemecatan itu menambah konflik semakin meruncing di tubuh Golkar..

Situasi ini dimanfaatkan betul oleh JK, yang termasuk senior di Golkar. Akhirnya sebagian kader Golkar bergabung ke Jokowi-JK, yang membuat Golkar berkeping-keping dan tidak memberikan suara yang signifikan pada kemenangan Prabowo-Hatta..

Keruntuhan Golkar karena manuver Ical yang diharapkan menjadi Capres, akan berdampak sama jika Prabowo tidak menjadi Capres Gerindra..

Desas desus bahwa Prabowo akhirnya menerima tawaran SBY supaya tidak maju Capres, membuat kader Gerindra gelisah. Prabowo adalah marwahnya Gerindra. Dan jika bukan Prabowo yang menjadi Capres, maka Gerindra tidak punya lagi sosok yang bisa dibanggakan.

Situasi itu akan memecah Gerindra dari dalam, dan ini tentu menjadi poin yang menguntungkan bagi Jokowi dan koalisinya. Kader Gerindra akan menggelar rapat luar biasa yang akan menyibukkan mereka secara internal dan tidak fokus pada pemenangan..

Dan jika itu terjadi, maka keruntuhan Gerindra akan semakin nyata. Bisa saja kelak akan terjadi dualisme kepemimpinan di Gerindra dan dimenangkan oleh mereka yang akhirnya mendukung Jokowi, persis seperti Golkar sekarang dan PPP.

Prabowo bisa saja berhitung bahwa jika ia maju menjadi Capres, ia sulit menang melawan Jokowi.

Tetapi jika ia tidak maju, kerugian lebih besar akan didapatnya. Kita tahu, membangun partai itu tidak mudah. Butuh uang triliunan untuk memulainya. Dan jika nanti Gerindra direbut dari tangan Prabowo, bayangkan betapa ruginya mereka..

Tentu kader Gerindra tidak mau mengusung orang lain yang sama sekali bukan kader. Apalagi di tahun 2014, Gerindra ada di nomor tiga, dengan jumlah kursi 73 atau 11,81 persen. Masak mau diatur-atur oleh partai-partai yang peroleh kursinya ada di bawah mereka ? Gengsi dong ah..

Politik itu memang seni untuk memenangkan perang. Tetapi jika salah langkah, kehancurannya akan menjadi tidak terbayang. Dan tentu kubu Jokowi menunggu Prabowo tidak mencalonkan diri, supaya lebih mudah memecah Gerindra dari dalam.

Itulah kenapa Prabowo masih belum mau mendeklarasikan dirinya menjadi Capres. Kebayang kesulitan apa yang dia alami sekarang.

Seperti makan buah simalakama. Dimakan, Mardani Ali Sera menjerit. Tidak dimakan, Neno Warisman tersedak karena pait.

Dan jangan sampai Prabowo akhirnya seperti Ical, yang tidak ada bayang2nya sekarang ini, padahal dulu sering muncul di tipi tiap hari, apalagi ada adegan peluk Teddy Bear di pesawat bersama seorang gadis..

Pada situasi ini, Jokowi masih berhasil memainkan pion kuda-kudanya dengan baik dan menunggu apa langkah yang dilakukan lawannya dalam kondisi terjepit..

Apakah benar Gerindra akan runtuh ? Kita tunggu saja sambil seruput kopi.