Minggu, 12 Agustus 2018

GALAUNYA PENDUKUNG PRABOWO

Politik
Sby dan Keluarga

Dibalik sedikit keributan ditubuh pendukung Jokowi karena terpilihnya Kyai Ma'ruf Amin, kubu Prabowo sebenarnya seperti kapal kecil terguncang ombak besar.

Mereka gamang, galau dan kecewa yang amat sangat dengan terpilihnya Sandiaga Uno sebagai Cawapres Prabowo. Sejak lama mereka mendesak pendamping Prabowo harus dari kalangan ulama, supaya mereka bisa memperbesar api isu agama.


Bahkan di masjid dan majelis para pendukung mereka, langsung terdiam karena tidak menyangka gerakan akhir Jokowi yang mengangkat Ma'ruf Amin. Mereka merasa kecolongan sekali, karena hanya itulah isu terkuat yang bisa mereka besarkan.

Dengan Sandi, paling isu ekonomi saja yang bisa mereka gaungkan. Ditambah sedikit saja isu anak muda atau milenial yang sama sekali tidak berpengaruh banyak terhadap suara.

Kegalauan ini bisa dilihat dari sikap PBB Yusril Ihza yang netral, tidak mengusung siapapun. Ke Prabowo ogah, ke Jokowi, haram jadah. Yusril dan pendukungnya kecewa berat karena mereka sudah mempersiapkan banyak hal untuk membesarkan isu agama bersama jaringan eks HTI yang mereka bina.

Dari satu sisi ini, Jokowi sudah menang satu langkah. Tapi ia tidak puas, ia harus mengguncang lebih banyak lagi.

Dan guncangan itu datang Kyai Ma'ruf Amin..

"Kami akan merangkul PA 212.." kata Ma'ruf Amin. Kata "merangkul" disini, bisa berarti mematikan langkah lawan. Lawan yang sebenarnya sudah terpojok, semakin gak bisa gerak. Maju kena mundur kena. Atas kena bawah kena. Depan kena, samping kena. Matek dah gua.


Bagaimana gak matek? Kalau PA 212 menyerang Jokowi, berarti mereka menyerang wakilnya. Kalau menyerang wakilnya, mereka akan head to head dengan NU dan itu berat.

Ibarat papan catur, Jokowi berhasil membentengi dirinya dengan menteri, gajah, benteng dan pion sekalian. Semua celah ditutup habis-habisan.

Mungkin keputusan memilih Ma'ruf Amin bukan keputusan yang menyenangkan buat banyak orang. Tetapi antara keputusan menyenangkan dan keputusan tepat itu berbeda. Jokowi berfikir lebih luas, sedangkan banyak dari kita masih hanya berfikir sekian langkah ke depan.


Dia tidak bisa membuat semua orang bahagia. Tapi dia ingin menyelamatkan negara, jangan sampai ada gesekan karena isu agama. "Narasi agama sudah selesai.." Katanya dulu, jauh sebelum penetapan. Saya tidak mengira, inilah senjata yang dia pakai.

Jokowi pernah juga bicara dalam sebuah pertemuan, "Kita hanya sibuk mencounter isu-isu yang mereka bangun. Kita menari di genderang yang mereka bunyikan. Kenapa kita tidak bisa membuat isu duluan, yang menjadikan mereka menari di genderang yang kita mainkan? Ayo, berfikir dari sudut yang berbeda, jangan dari sudut yang mereka ciptakan.."

Lihatlah lawan mulai gamang, sampai harus membentuk Sandiaga Uno menjadi santri. Lawan seperti sedang berimajinasi, mencoba keras merapihkan barisannya kembali.

Akhirnya supaya membangkitkan kepercayaan diri, mereka main pooling-poolingan. Bikin-bikin sendiri, menang-menang sendiri, senang-senang sendiri, puas-puas sendiri.

Mirip ABG lelaki yang sedang mencari jati diri dengan berlama-lama di kamar mandi.

Kopii.. mana kopiii...