Rabu, 22 Agustus 2018

HAJI POLITIK

Politik
Haji Politik

Apakah sebenarnya makna Haji itu?

Haji bermakna penghambaan total. Melepas seluruh sifat keduniawian.

Itulah kenapa disebut "bila mampu" di dalam berhaji. 'Mampu' bukan hanya dalam soal materi dan kesehatan waktu melakukan perjalanan, tetapi 'mampu' melepaskan diri dari keterikatan penghambaan nafsu.

Haji itu sangat berat, itulah kenapa ia ditaruh pada ibadah terakhir dalam agama Islam.

Perhatikan pakaian saat orang sedang beribadah haji. Mereka hanya berlilitkan ikhram. Penggambaran pelepasan aksesoris dunia yang selama ini banyak melilit manusia. Haji bukan sekedar ibadah. Ia adalah konsep penyerahan diri yang paling tinggi kepada sang Khalik, pencipta semesta.



Lalu, bagaimana dengan mereka yang berhaji sambil membawa-bawa maksud politik ke tempat dimana semua orang sedang khusuk beribadah?

Mereka jelas belum terlepas dari nafsu dunia. Bahkan bisa dikatakan belum 'mampu' berhaji, tetapi memaksakan diri karena merasa sudah cukup dengan materi. Yang tinggal hanyalah gelar tanpa arti.

Dan ketika nafsu dunia saja mereka bawa ke tempat ibadah, bayangkan apa yang terjadi ketika mereka menjabat nanti? Tentu jabatan akan mereka anggap sebagai bagian dari dunia, bukan ibadah, bukan amanah.

Mungkin mereka harus belajar pada secangkir kopi, yang menghamba pada kenikmatan supaya bisa berguna pada manusia.