Senin, 08 Oktober 2018

KOALISI PANIK

Politik
Panik

Kenapa mendadak koalisi sebelah mengalihkan isu dari operasi plastik ke isu ekonomi dan menyerang pertemuan tahunan IMF dan World Bank di Bali?

Sejak awal situasi koalisi di sana memang sedang buruk-buruknya. Situasi itu dipicu oleh isu adanya uang 1 triliun rupiah yang dikucurkan si "tempe ATM" kepada dua partai pendukungnya.

Kabar burung berkicau bahwa uang yang disetor sebenarnya baru 70 M saja, sebagai depe tanpa persik, tapi sisanya belum keluar juga sampai sekarang. Kalau pun keluar cuman incrit-incrit saja.

Memang darimana sisa uangnya? Ya, tentu dari investor lah. Strategi yang dipakai memang strategi ala Hedge Fund Manager. Taruh dikit dulu untuk kepastian, jika sudah sah baru tunjukkan ke investor, "Tuh gua dah jadi kan? Sekarang mana duit sisanya?"

Nah, investor juga tidak go to the block. Mereka butuh kepastian yang lebih pasti lagi. Uang keluar setahap demi setahap menunggu perkembangan yang terjadi karena hasil survey kok tidak naik-naik meski si "tempe ATM" sudah disana. Sudah jual ganteng, kaya dan milenial, tapi kok survey tidak bereaksi.

Supaya uang investor keluar semua untuk pembiayaan gerakan kampanye yang rakus dana, maka dirancanglah sebuah gerakan massa. Dibikinlah strategi operasi plastik itu.

Gagal. Malah jadi blunder total. Investor malah pelan-pelan mundur karena tidak mau ketahuan. Disinilah kepanikan melanda karena cadangan kas sudah terkuras.

Akhirnya diputuskan, "Supaya biaya kampanye murah, ya kita undang-undang wartawan aja, jangan bikin acara apa-apa dulu sampe ada investor baru. Kita kritik-kritik aja, siapa tahu dapat tanggapan dan isunya jadi meluas..".

Koalisi sebenarnya berharap uang dari "keluarga kaya tujuh turunan itu", tapi mereka baru tahu bahwa keluarga itu peditnya naudzubillah.

Sampai sini paham, kan? Belum selesai. Kita kembali ke awal ke isu 1 triliun itu..

Beredar kabar bahwa salah satu partai pengusung sedang pecah. Perpecahan diawali rebutan uang mahar itu. "Pusat dapat uang kok tidak disebar ke daerah? Daerah udah megap-megap. Jangan dimakan sendiri dong.." Itulah akibat uang mahar terbongkar, daerah jadi tahu berapa-berapanya.

Daerah tidak mau tahu bahwa pusat masih cuman terima sekian puluh miliar saja dari yang dijanjikan ratusan. Akhirnya goyahlah daerah. Apalagi si partai memang ada perpecahan internal, sehingga lawannya di internal makin ampuh mengacak-acak untuk mencari pengaruh di dalam. Dan kita dengar kabar di beberapa daerah, para pejabat internal mundur total.

Politik memang tidak seperti tampak di permukaan. Permukaan seperti air tenang tapi di dalamnya terjadi gemuruh besar. Ada yang mata duitan, ada yang pengen cari keuntungan di depan, ada juga yang lagi deg-degan menunggu ketokan pintu polisi yang berhasil membongkar isi hape tersangka operasi.

Ruwet, kan?

Begitulah koalisi berdasarkan kepentingan uang dan kekuasaan. Tali temali diantara mereka rapuh dan mudah terurai. Bentar lagi juga rontok dan saling memakan..

Kita nikmati aja sambil seruput kopi dan bernyanyi, "Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kalian. Yang selalu salah dan dan bangga dengan dosa-dosa..."