Kamis, 04 Oktober 2018

Prabowo yang Sering Tertipu

Politik
Prabowo Konpers

Prabowo tertipu lagi....

Kasus Ratna Sarumpaet ini bisa dibilang adalah kasus dimana Prabowo ketipu untuk ketiga kalinya. Itu yang kelihatan, entah yang tersimpan.

Yang pertama adalah saat Prabowo diajak Megawati berpasangan dalam pemilihan Presiden 2009. Di situ ada kesepakatan tertulis antara mereka berdua bahwa Prabowo akan menjadi Cawapres Mega, tetapi nanti di 2014, Megawati atau PDIP harus mendukung Prabowo menjadi Capres.

Ternyata politik itu dinamis. PDIP tahun 2014 mencalonkan kadernya sendiri yaitu Joko Widodo sebagai Capres. Prabowo jelas berang karena menurutnya ini melanggar kesepakatan dan ia merasa tertipu. Sedangkan PDIP tidak merasa sudah menipu karena Pilpres 2009 mereka berdua kalah, jadi perjanjian tidak berlaku lagi untuk mereka.

Ketipu kedua kali adalah saat Pilpres 2014.

Pada waktu itu Prabowo sangat percaya pada hasil hitung cepat lembaga survei binaan PKS dan stasiun TVOne yang menayangkan kemenangan Prabowo. Prabowo bahkan bersujud tanda kemenangan dan koalisinya berteriak kegirangan. Potret ini menjadi momen memalukan bagi Prabowo sendiri karena menjadi jejak digital abadi yang tidak pernah hilang. Bahkan dijadikan meme setiap lima tahunan.

Dan yang terakhir sungguh mengenaskan, saat Prabowo bahkan ditipu oleh seorang nenek-nenek pecinta operasi plastik. Ini sangat memalukan karena Prabowo dianggap bertindak sebagai Capres yang percaya dengan hoaks yang sebenarnya bisa diterka dengan mata telanjang.

Persepsi yang beredar di masyarakat sekarang adalah, "Bagaimana mungkin seorang calon pemimpin negara besar dan mantan tentara bisa ditipu oleh seorang nenek yang tak berdaya?"

Pertanyaannya adalah kenapa Prabowo seringkali tertipu?

Alasan yang paling tepat pertama adalah karena Prabowo haus sekali dengan kekuasaan. Rasa penasarannya untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia ini membuatnya menjadi buta, reaktif dan emosional. Sehingga keputusannya seringkali bukan berdasarkan pertimbangan dan hitungan yang matang.

Ia malah terjebak sendiri atas langkah yang ia lakukan. Pada saat terperangkap di tengah dan tidak bisa keluar, ia baru sadar tetapi sudah terlambat untuk kembali ke awal.

Alasan kedua adalah karena Prabowo senang dipuji. Keinginan untuk terus "diangkat" oleh anak buahnya yang memanfaatkan kelemahan dirinya, menjadi bencana baginya.

Ia lebih percaya bisikan orang-orangnya daripada dirinya sendiri. Sehingga langkah-langkahnya banyak terbentuk oleh pemikiran orang-orangnya. Dari bahasa tubuh Prabowo memang menggambarkan itu. Ia senang kemegahan dengan menggambarkan dirinya adalah seorang priyayi, seorang raja yang mempunyai tahta sendiri. Apalagi ketika anak buahnya memanggilnya "Bapak Presiden" dia pasti senang bukan kepalang.

Prabowo seharusnya mulai membuang orang-orang yang terus menjilat dirinya, memanfaatkan dirinya untuk kepentingan mereka pribadi. Ia harus merestrukturisasi orang-orang dekatnya dengan orang yang strategis dan bertindak bukan karena "Asal Bapak Senang" tetapi benar-benar karena perhitungan yang matang.

Prabowo harus mengakui secara pribadi bahwa kelemahannya ada di sekitarnya, ada di dekatnya. Ganti mereka dengan orang-orang kompeten dan profesional. Dunia politik itu dinamis, jadi harus mulai bergerak dinamis juga. Jangan terpaku pada sosok, tetapi lihat track record.

Jika itu bisa dilakukan oleh Prabowo, Insya Allah cita-citanya untuk menjadi Presiden bisa terkabul. Tapi nanti, tahun 2024. Karena 2019 sudah milik Jokowi. Suka ataupun tidak.

Seruput kopinya?

Tagar.id