Jumat, 05 Oktober 2018

SADISNYA AIRMATA NAYIRAH

Hoax
Ratna Sarumpaet

Nayirah bercucuran air mata di depan kongres Amerika. Gadis berusia 15 tahun itu menceritakan betapa kejinya tentara Irak membunuh ratusan bayi tak berdosa. Pengakuan Nayirah Al Sabah "sang saksi mata" itu membuat siapapun yang mendengar ceritanya bercampur aduk perasaan, antara sedih dan benci tak terhingga.

Pengakuan Nayirah yang diliput media internasional ini kemudian menghasilkan keputusan penting di tahun 1990, yaitu "operasi badai gurun" dimana Amerika dan sekutunya serentak menyerang Irak.

Perang teluk pun dimulai. Ratusan ribu jiwa hilang. Bukan hanya dari tentara Irak, terbanyak adalah warga sipil ibu dan anak kecil yang tak berdosa.

Belakangan diketahui, Nayirah adalah putri duta besar Kuwait di Amerika. Dia mengambil kelas akting dan dipimpin oleh perusahaan public relation di Amerika, hanya untuk bersaksi palsu atas peristiwa yang hanya ada dalam karangannya.

Tapi terlambat sudah, jiwa-jiwa telah melayang. Gadis berusia 15 tahun itu hilang entah kemana. Nayirah dituding sebagai alat propaganda untuk mengesahkan penyerangan ke Irak dengan hoaks yang ia sebarkan..

Apa yang dilakukan RatnaSarumpaet mirip dengan apa yang dilakukan Nayirah...

Ratna adalah pemain teater yang dikenal pada masanya. Monolog Marsinah menggugat adalah karya besarnya yang membuat ia menjadi musuh Orde Baru. Hanya kali ini ia berakting untuk membangun perang saudara, yang untungnya gagal karena skenarionya jauh dari sempurna.

Apakah Ratna Sarumpaet berakting sendirian dan hanya untuk dirinya?

Berkaca pada kisah Nayirah, tidak ada sesuatu yang kebetulan, apalagi dalam panggung politik sebesar pemilihan Presiden. Terlalu naif jika percaya bahwa itu hanya kecelakaan dan bisikan setan. Ratna adalah Nayirah, sebuah alat saja untuk menjustifikasi suatu gerakan besar.

Prabowo melakukan hal yang mirip dengan George Bush Sr, Presiden Amerika saat itu, yang membutuhkan sebuah picu untuk melancarkan propaganda besar dalam bagian dari strategi kampanyenya.

Ia tidak berfikir dampaknya, bahkan berfikir panjang untuk itu. Ia hanya berfikir tentang hasilnya, bagaimana caranya ia mempunyai kekuasaan besar kelak. Meski jika harus mengorbankan jiwa banyak orang, baginya itu hanya korban perang saja. Sebuah statistik tanpa arti apa-apa.

Mengerikan mempunyai calon pemimpin seperti itu. Jika ia mampu mengorbankan bangsa ini, tentu ia sangat mampu mengorbankan beberapa orang jika ia berkuasa nanti..

Sejarah selalu berulang dengan waktu dan tempat yang berbeda. Kesamaan pola bukan kebetulan belaka. Peristiwa Nayirah Al-Sabah adalah bagian dari strategi militer yang menjadi bahan pengajaran di taktik perang negara besar seperti Amerika. Dan bisa saja negeri ini dijadikan tempat sebagai bagian dari studi kasusnya..

Sudah pahit kopinya?